DI BALIK KEHIDUPAN PENGEMIS MALIOBORO

12 01 2010

DI  BALIK  KEHIDUPAN

  PENGEMIS  MALIOBORO

Berita Utama

Keindahan kota Jogja, khususnya di daerah Malioboro sebagai jantuk perekonomian kota Jogja yang di bilang sangat maju dengan pertumbuhan yang sangat pesat. Namun apabila kita amati, tak sedikit para pengemis duduk di depan emperan toko atau bahkan di tepi trotoar untuk meminta-minta, sungguh ironi, Kenapa mereka meminta-minta ? Bagaimanakan kehidupan pengemis sebenarnya ?      

         “Kami ingin bebas! Kami ingin bebas dari ketidakadilan, kemiskinan, lapar dan rasa takut! Kami ingin bebas dari perlakuan sewenang-wenang! Kami berharap untuk bisa berbahagia!”,tutur pria yang sering di sapa Slamet. Seorang pengemis yang sering mangkal di kawasan maliobori ini mejelaskan bahwa, kebebasan kami hanya dapat diperoleh bila orang di sekitar kami merasa bebas.

          Kami hanya dapat merasa bahagia apabila orang disekitar kami pun merasa bahagia. Kami hanya bisa nyaman, apabila orang-orang yang kami temui dan kami lihat di dunia ini merasa nyaman. Dan kami hanya dapat makan dengan nyaman apabila orang lain juga dapat merasa nyaman dengan makan seperti kami. Dan untuk alasan tersebut, dari diri kami sendiri, kami memberontak menantang setiap bahaya yang mengancam kebahagiaan dan kebebasan kami”, tegasnya .

            Pria yang hampir separuh baya ini menjelaskan bahwa, Ketika ada razia, bukannya di rehabilitasi dengan baik untuk mendapat perlindungan, Namun yang diberikan pada kawan-kawan pengemis  adalah Sat Pol PP sering melakukan tindakan razia dengan kekerasan, terutama di wilayah Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Sampai saat ini”, tuturnya

        “Berdasarkan info yang saya tahu dari kawan-kawan pengemis, ada  kawan-kawan pengemis yang dirazia oleh Sat Pol PP Sleman dan Jogja, dimana  mereka  mengaku mengalami kekerasan fisik (dipukuli), digabur (dilepas sembarang tempat) di daerah Besi dan Kalasan, dan bahkan ada yang uang hasil meminta-mintanya di ambil oleh petugas sat pol PP.

            Di tempat terpisah, Salah seorang pengakuan  pengemis, Sumiyati ( 69 tahun ), di usianya yang telah senja, ia menjelaskan bahwa sebuah keterpaksaan ketika dirinya menjadi pengemis, karena dirinya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang pengemis. Fisiknya yang sudah rentang, mengharuskan dia menjadi seorang pengemis.

      Tiap harinya Sumiyati, tidur di pasar Bregharjo, bersama buruh gendong, dan juga pengemis yang lain. Nenek yang mengemis sejak 5 tahun yang lalu, mengaku bahwa sehari rata-rata dirinya hanya mendapat 6 ribu – 8 ribu, dan untuk makan sehari-hari, dirinya hanya membeli nasi bungkusan seribuan.

       Sumiyati, “Saya ingin pemerintah adil dalam menangani masalah pengemis seperti saya, yang saya tahu, bahwa  tiap warga negara berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, namum pada kenyataannya saya sama sekali tidak medapat keadilan, saya merasa sekarang hidup tidak adil, karena yang kaya semakin kaya, dan yang miskin seperti saya semakin terpinggirkan”

      Nenek asli Surabaya ini mengaku, bahwa dirinya Pernah sekali di razia, namun dirinya sangat tidak betah tinggal di  tempat rehabilitas, karena terlalu banyak aturan, sedangkan saya ini sudah tua, saya ingin hidup tenang dan lebih senang seperti sekaran ini”, tuturnya dengan pasrah.

        Di tempat terpisah, Slamet kembali menjelaskan bahwa, Pemerintah juga mengalami kegagalan dengan berbagai proyek-proyek yang seringkali atas nama rehabilitasi, Sebagai contoh, pengalaman kawan-kawan saya yang sering terkena razia kemudian dibawa ke panti sosial, bahkan mereka selau mengalami kekerasan fisik dan psikis, mereka di panti sosial tidak ada pemberdayaan sama sekali, bahkan mengalami nasib yang sangat menyedihkan dan diperlakukan sewenang-wenang, seperti saat di panti sosial kawan-kawan dicampur dengan orang-orang yang mengalami permasalahan dengan kegilaan.

      Kalaupun ada rehabilitasi berupa pemberdayaan, hal ini banyak sisi kelemahannya karena kawan-kawan setelah program pemberdayaan selesai maka urusan dinas sosial pun selesai, mereka tetap dibiarkan dan tersingkir dari arena kompetisi kerja. Indikator kegagalan program rehabilitasi yang lain bisa terlihat dari pengemis jalanan yang sudah berkali-kali terkena razia, berkali-kali masuk panti sosial namun mereka tetap kembali mencari rezeki di jalanan, bahkan jumlah penduduk yang mengalami kemiskinan  dan memilih mengais rezeki dari jalanan semakin besar. Artinya, ini ada fakta-fakta yang seharusnya bisa membuka mata para pejabat  dan bisa berkoreksi !, tegasnya.

       Namun di sisi lain, ketika  masyarakat Jogja bicara soal pengemis, banyak yang mengalami Pro dan Kontra atas keberadaan pengemis di kawasan Malioboro. Sebut saja Bram, mahasiswa UMY ini menggagap bahwa, Saya merasa tidak begitu terganggu dengan adanya pengemis di sekitar malioboro, karena saya merasa bahwa mereka juga manusia, dan saya yakin bahwa mereka mengemis karena mereka tidak punya pilihan lain. Mahasiswa yang akan  merampungkan skipsinya ini kembali menegaskan bahwa,

       Seharusnya mereka di rehabilisasikan, di beri ketrampilan, dan lebih baik lagi apabila mereka di beri pinjaman modal untuk buka usaha kecil-kecilan sesuai dengan bakat mereka masing-masing, tegas Bram (24) Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

      Pendapat lain, di tuturkan oleh Tutut (14) siswi SMP 1 Bangun Papan, Jogja,  “Sangat Terganggu!”, adalah jawaban pertama ketika di tanya soal keberadaan pengemis di sekitar kawasan Malioboro. Saya di satu sisi kadang juga kasihan, namun disisi lain saya sangat terganggu dengan keberadaan pengemis di kawasan Malioboro, karena bagi saya malioboro merukapan salah satu icon objek wisata kota Jogja, yang harus di jaga kebersihannya!, tegasnya dengan wajah polos. “Menutut saya, pemerintah DIY harus lebih tegas dalam menangani masalah pengemis, karena bagaimanapun juga, ini sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan pengunjung, tegasnya.

      Sekilas kehidupan pengemis dan juga tanggapan dari masyarakat Jogja di atas. Akankah Pemerintah DIY akan tinggal diam dalam menangani masalah ini? Kita tunggu saja !!

Profil Pengemis

KETIKA  PENGEMIS  BERBICARA

 

Berita pendukung

            Tua dan Rentang, adalah kesan pertama  ketika melihat sosok nenek tua, di pojok trotoar Malioboro, Dengan wajah kusamnya, nenek tua itu duduk sambil menunggu orang yang lalu-lalang, dan berharap memberinya uang. Sungguhkan ia seorang pengemis atau perampok bertopeng pengemis ?, bagaimana ketika pengemis itu bicara ?

 

             Sumiyati ( 69 tahun ), di usianya yang telah senja, ia menjelaskan bahwa sebuah keterpaksaan ketika dirinya menjadi pengemis, karena dirinya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang pengemis. Fisiknya yang sudah rentang, mengharuskan dia menjadi seorang pengemis.

        Nenek asli Surabaya ini, mengaku bahwa dirinya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, suaminya yang telah meninggal sejak tahun 2005 lalu, dan dirinya juga tidak memiliki anak, bahkan sodara laki-laki satu-satunya pun telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

           Tiap harinya Sumiyati, tidur di pasar bregharjo, bersama buruh gendong, dan juga pengemis yang lain. Nenek yang mengemis sejak 5 tahun yang lalu, mengaku bahwa sehari rata-rata dirinya hanya mendapat 6 ribu – 8 ribu, dan untuk makan sehari-hari, dirinya hanya membeli nasi bungkusan seribuan. Dirinya bersyukur, tidak sakit-sakitan, walaupun dia harus kedinginan dan tidak memiliki apa-apa, namum dia berusaha menjaga dirinya yang ringkih dengan sabuah selendang pemberian orang pada saat hari raya idul fitri tahun lalu.

          Nenek yang  tiap harinya  muali mangkal di tepi trotoar Malioboro ini mengaku bahwa ia mulai mengemis dari jam 3 sore hingga 10 malam, namum bila hari jumat, ia mulai mengemis dari jam 10 pagi hingga 5 sore.

          Pernah sekali di razia, namun dirinya mengaku sangat tidak betah tinggal di  tempat rehabilitas, karena terlalu banyak aturan, sedangkan saya ini sudah tua, saya ingin hidup tenang dan lebih senang seperti sekaran ini”, tuturnya dengan pasrah.

          Sumiyati, “saya ingin pemerintah adil dalam menangani masalah pengemis seperti saya, yang saya tahu, bahwa  tiap warga negara berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, namum pada kenyataannya saya sama sekali tidak medapat keadilan, saya merasa sekarang hidup tidak adil, karena yang kaya semakin kaya, dan yang miskin seperti saya semakin terpinggirkan”, katanya dengan berlinangkan air mata.

         “Bila melihat teman-teman yang lain, seperti buruh gendong di pasar Brengharjo, saya juga merasa ingin seperti mereka, namun tubuh saya yang rentang tak mungkin lagi mampu mengangkat beban berat seperti mereka, terangnya.

         Saya juga merasa kasihan dengan teman-teman pengemis yang senasip dengan saya, Jadi saya berharap, jangan ada lagi pengemis seperti saya, karena saya tidak ingin ada orang lain yang merasakan penderitaan seperti saya sekarang ini . Tegasnya dengan rauk muka penuh kesenduan.

KATA ORANG JOGJA,

 TENTANG PENGEMIS  DI  MALIOBORO

Berita pendukung

Bramantya ( 24 tahun ) Mahasiswa UMY Advertaising,

Saya merasa tidak begitu terganggu dengan adanya pengemis di sekitar malioboro, karena saya merasa bahwa mereka juga manusia, dan saya yakin bahwa mereka mengemis karena mereka tidak punya pilihan lain, tutur mahasiswa yang kini tengah merampungkan skipsinya.

Pemerintah kurang memperhatikan nasip pengemis di sekitar malioboro, mungkin karena pemerintah terlalu sibuk memikirkan PKL, sehingga nasip pengemis menjadi terabaikan. “Saya sangat mempertanyakan tanggung jawab pemerintah DIY ?” katanya dengan tegas.

Seharusnya mereka di rehabilisasikan, di beri ketrampilan, dan lebih baik lagi apabila mereka di beri pinjaman modal untuk buka usaha kecil-kecilan sesuai dengan bakat mereka masing-masing, tegas Bram (24) Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

Tutut ( 14 tahun ) Siswa SMP 1 Bangun Papan, Jogjakarta

            “Sangat Terganggu!”, adalah jawaban pertama ketika di tanya soal keberadaan pengemis di sekitar kawasan malioboro. Saya di satu sisi kadang juga kasihan, namun disisi lain saya sangat terganggu dengan keberadaan pengemis di kawasan malioboro, karena bagi saya malioboro merukapan salah satu icon objek wisata kota Jogja, yang harus di jaga kebersihannya, baik secara fisik, maupun non fisik, yaitu dengan keberadaan pengemis akan merusak keasrian pemandangan di malioboro.

            Gadis manis asli Jogja ini juga menambahkan, “Saya baru duduk sekitar 5 menit di sini saja, tadi sudah ada 2 pengemis yang meminta-minta uang, yah, bila ada ya saya beri uang, namun bila tak ada uang receh, ya saya tidak beri”, jawabnya dengan santai.

            Menutut saya, pemerintah DIY harus lebih tegas dalam menangani masalah pengemis, karena bagaimanapun juga, ini sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan pengunjung, tegasnya.

Marlina ( 36 tahun ), Ibu Rumah Tangga

            Keberadaan pengemis di kawasan malioboro, sangat saya sayangkan, karena ini juga dapat merusak keindahan tata kota, yang seharusnya rapi, namun karena adanya pengemis sehingga menjadi terlihat kumuh dan yang jelas juga dapat mengganggu pengunjung yang ingin santai di taman malioboro.

            Ibu dua anak, asli Condong catur ini mengaku, bahwa kalau sore dirinya dan salah seorang anaknya senang duduk santai di taman malioboro, depan benteng. Namun dengan adanya keberadaan pengemis, menjadikan dirinya harus selalu sedia uang reseh untuk memberi pengemis yang sering meminta-minta.

            Dari dulu hingga sekarang, pengemis tidak pernah habis, namun jumlahnya terus bertambah, saya merasa bahwa pemerintah DIY telah merehabilisasi mereka, namun mungkin mereka lebih senang meminta-minta dari pada harus bekerja, saya sunggung menyayangkan hal ini. Tutur Marlina, dengan muka kesahnya.

By       : KHARISMA    AYU    FEBRIANA

NIM    : 153 070 115





Pak joko, mengharapkan uang receh di keramaian malioboro

11 01 2010

 

(berita pendukung)

Pak joko, mengharapkan uang receh di keramaian malioboro Malioboro

 

              Memang sangat indah di siang hari dan mewah pada saat malam datang ,berbagai aktifitas hampir bercampur menjadi satu di jalan jantungnya kota yogyakatra ini, tetapi dibalik itu ada sedikit harapan untuk soerang pengemis yang mempunyai senyuman yang menbuat malioboro terasa lebih indah. Joko 65 tahun, laki-laki separuh baya ini duduk menyendiri di salah satu pojokan di maloiboro, bapak asli Surabaya ini sehari-hari mengemis di sekitar malioboro untuk menyambung hidupnya yang sebatang kara ini, siang dan malam bapak yang khas memekai topi ini sahat mengharapkan belaskasihan kepada orang-orang yang ada di sekitar malioboro, dengan dibantu bekas cangkang air minum meneral dia berkeliling malioboro untuk mengais untuk kehidupan sehari-hari. Di tengah terik matahari yang panas bapak dengan logat jawa ini tidak pernah ada rasa putus asa untuk mendapatkan sekeping receh di malioboro.Bapak yang selalu membawa kantong berwana hita yang berisi pakaian itu dalam sehari bisa mendapatkan uang 30 ribu yang sudah cukup untuk makan dia sehari. Ia memilih malioboro sebagai tempat bekerjanya karena dianggap paling strategis di yogyakarta “saya sengaja datang dari kota Surabaya hanya untuk menikmati dan mengharapkan uang receh di malioboro, bagi saya uang receh lebih berharga dibandingkan uang 100 ribu karena uang receh tidak mungkin bisa dipalsukan.” ucapnya sambil meminum segelas es teh. Siapa yang menyangka bapak 5 cucu itu pandai berbahasa inggris, dia bisa berbahasa inggris karena pada waktu jaman dulu sudah terbiasa bergaul denagn para turis yang berwisata ke kota pahlawan itu, bapak ini juga salah satu saksi hidup pejangan arek-arek soroboyo yamg berhasil mengusir belanda dari Indonesia.”pada saya berusia 19 tahun saya sdah terbiasa memedang senjata untuk berjaga-jaga bilamana ada serangan mendadak dari belanda”. Ujarnya sambil sedikit berbahasa inggris itu. Pada tahun 1989 pak joko sudah merasakan berada di balik jeruji besi penjara, pada ewakri itu dia difnah melakukan pembunuhan yang akhirnya menyerednya ke penjara selama 5 tahun. Tidak jarang juga satpol PP menertibkan para gelandangandan pengemis, tetapi itu tadak menbuat kapok pak Joko untuk kembali lagi ke malioboro untuk mencari nafkah.” Bagi saya malioboro adalah surganya dunia, disinalah saya makan, tidur, mencari uang dan mencari rezki”. Pak joko adalah salah satu dari banyak orang yang mencari nafkah di keramaian malioboro. Di Surabaya bapak yang basa disapa jobay ini memiliki 2 orang anak yang sekarang hidupnya sudak mapan-mapan, tetapi dia tidak mengharapakan kekeayaan anaknya itu karena dia merasa malu karena dia mantan narapidana yang mungkian akan menjadi aib bagi keluarganya sendiri, kemudian dia meninggalkan tanah kelahirannya dan hijrah ke kota gudeg untuk bertahan hidup.

Penulis: Ikhsan Hikmawan (153070334)

( berita Utama)

Indonesia, kaya akan SDA tapi miskin akan SDM

Negara Indonesia kaya akan sumberdaya alam, pulau-pulau terhampar luas mengelilingi bumi pertiwi ini, Negara yang dibatasi oleh dua benua dan dua samudra ini memiliki kenekaragaman kehidupan, namun dibalik itu Indonesia juga menyimpan sejuta misreri yang tak terpecahkan juga.

Dibalik keindahan indinesia ini sering terjadi berbagai fonomena alam yang silih berganti yang melanda bumi pertiwi ini, mulai dari bencana tsunami, banjir, longsor, gempa bumi dan kebakaran. Entah kenapa bencana itu sering melanda Negara yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani ini. Dengan kejadian itu banyak orang yang kehilangan harta benda serta tempat tinggal, yang akhirnya akan melahirkan kemiskinan dan pengangguran.

Gambar disanping menggambarkan salah satu potret krisis kemiskinan yang melanda ibu pertiwi ini. Mereka kahilangan tempat tinggal dan pergi ke kota untuk mencari makan dan bertahan hidup. Seharusnya mereka hidup bahagia bersama keluarganya dan menggapai mimpinya. Dan masih banyak saudara-saudara kita yang hidup pada garis kemiskinan, ditambah mealmbungnya kebutuhan pokok yang semakin memberatkan mereka.

Menjadi pengemis adalah salah satu cara mereka untuk bisa bertahan hidup ditengah kota yang keras ini. Meraka menagis rupiah untuk mendapatkankan sesuap nasi, tidak peduli dibawah terik matahari atau pun diguyur hujan deras meraka tampak tidak putus asa untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Di keramaian kota mereka bersaing sesama pengemis. tidak jarang juga mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib dan membawanya ke tempat yang lebih layak untuk mereka, tetapi itu tidak membuat kapok untuk kembali lagi kejalanan, “hidup dijalan lebih mengasikan daripada harus hidup dipanti asuhan” ujar salah satu pengemis yang masih remaja ini.

Anak-anak ini seharusnya duduk dibangku sekolah untuk mencari ilmu sesuai cita-cita mereka, bukannya ada dijalanan untuk mencari uang. Orang tua yang seharusnya membingbing mereka untuk menjadikan anaknya menjadi orang pandai bukannya malah menelantarkannya begitu saja.Jalanan yang kejam dan penuh bahaya ini terpaksa mereka pilih untuk tempat berteduh.

Pemerintah seharusnya harus memerhatikan mereka dengan serius, mereka tidak ingin Negara tercinta ini harus dikotori pemandangan seperti pengemis dan gelandangan. Dengan membuka lapangan pekerjaan bagi mereka, dan membimbing mereka untuk hidup lebih kreatif dan mandiri. Sekarang diperparah dengan ditemukannya kasus kekerasan bahkan pembunuhan yang kerap terjadi pada pengemis dan gelandangan. Lebih sadis lagi ada beberapa pengemis yang meninggal karena kelaparan.

 penulis : ikhsan Hikmawan (153070334)





11 01 2010

IN DEPTH NEWS (UAS)

PLUS MINUS KOST-KOSTAN JOGJA

_TULISAN UTAMA_

Siapa yang tak kenal kota Yogyakarta? Kota yang sering disebut dengan sebutan kota pendidikan memang bukan hanya di Yogyakarta saja. Beberapa kota yang lain juga mempunyai sebutan sebagai kota pendidikan. Akan tetapi sampai saat ini Yogyakarta tetap menjadi tujuan utama para pencari ilmu dari seluruh pelosok negeri. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendukung Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Hal ini yang membuat kota ini penuh dengan kost-kostan. Tidak heran apabila keberadaan kost membawa banyak sekali hal positif maupun negatif. Lalu apa saja hal positif dan negatif tersebut?

Secara fungsional ada dua hal yang mungkin ada dalam kost-kostan. Pertama, sebagai tempat tinggal bagi para pelajar dan mahasiswa dalam menuntut ilmu, kamar kost adalah tempat lahirnya produk-produk pemikiran besar, ladang melakukan inspirasi dan perenungan.

Kost-kostan adalah wadah/tempat tinggal sementara bagi orang yang merantau ataupun mahasiswa/i untuk lebih strategis dalam mencapai kampus karena rumah yang sangat jauh ataupun untuk mengirit ongkos. Namun sekarang ini kost – kostan bukan lagi berfungsi menjadi tempat tinggal sementara melainkan tempat maksiat/mesum dan tempat pemakaian narkoba. Biasanya orang yang memakai jasa kost-kostan adalah orang yang tidak mempunyai sanak keluarga untuk menumpang bertempat tinggal di jakarta, begitu juga dengan para mahasiswa/i yang mengekost karena alasan jauh dari kampus mereka sehingga mereka bebas tanpa pengawasan orang tua.

Selain itu tempat kost sekarang ini tak lagi seperti dahulu yang masih diawasi oleh ibu kost dan mempunyai banyak peraturan yang semuanya selalu terkontrol, sehingga para anak kost sekarang bebas untuk membawa siapa saja kedalam kamar kost, baik pria maupun wanita. Hal ini membuat para anak kost tidak takut melakukan hal yang tidak sewajarnya seperti melakukan hubungan seksual diluar nikah.

Bagi Ibu Sri Lestari, pengurus kost-kostan yang terletak di jalan dirgantara daerah Babarsari mengaku senang dengan adanya kost-kostan yang ada disitu karena dengan adanya kost-kostan dianggap dapat membantu persatuan berbagai budaya yang ada di Indonesia. Di kost-kostan ini, penghuni sebagian besar adalah mahasiswa luar jawa, sebagian lain adalah pulau jawa. Hal ini dapat membantu memperkenalkan lebih mudah bagaimana budaya kita terhadap budaya lain.

Kost-kostan yang telah berdiri sekitar 19 tahun yang lalu ini sekarang memiliki 30 kamar yang masing-masing kamarnya diisi oleh 1 orang penghuni kost, ujar wanita 35 tahun ini. Selama ini belum pernah ada masalah yang begitu berarti dalam kost-kostan tersebut, dan wanita yang biasa dipanggil “Mak e” ini juga berharap tidak akan ada masalah dalam kost-kostan ini.

Istilah universitas kost-kostan dan pondokan memang layak untuk disosialisasikan, karena aktifitas sehari-hari kaum terpelajar sebenarnya hanya ¼ (5 jam)saja untuk belajar di yayasan atau perguruan tinggi dan ¾ (11 jam) nya adalah lingkungan, teman, dan masyarakat yang mendidiknya. Dan mampu membentuk karakter diri seseorang, dari yang sholeh menjadi begundal, sholihah menjadi binal, teladan menjadi edan, taat menjadi murtadz atau sebaliknya.

Yang semua itu tidak lepas dari pengaruh teman, lingkungan dan masyarakat. Mahasiswa. Disamping ke perpustakaan, museum, mall, bioskop, tempat-tempat wisata, koleksi pacar dan sebagainya. Yang semua itu tidak bisa lepas dari penyebaran virus pekat (penyakit masyarakat) yang bisa ditularkan lewat universitas kost-kostan dan pondokan dengan sangat cepat.

Penyakit masyarakat atau virus yang wajib di jauhi dalam universitas kost-kostan dan pondokan adalah SARS (seks antar rekan sekost), free sex, kumpul kebo, pencurian dan narkoba, yang semua itu bisa ditularkan dengan sangat mudah baik lewat pergaulan bebas, sekedar mencoba atau bisa juga karena terpaksa.

Kost-kostan yang tidak sehat juga dapat melahirkan penyakit hati, egois, cemburu, suka memfitnah, mengumpat dan sebagainya. Yang kemudian akan berimbas pada penyakit fisik seperti: junkis (narkobais), hamil sebelum nikah, suka begadang, sehingga kesehatan fisik sudah tidak seimbang lagi. Jika sudah demikian maka malas-malasanlah yang akan bertindak, kuliah malas, belajar malas, makan pun malas, bahkan droup out dari kuliah menjadi mungkin terjadi.

Gambaran di atas tentu sangat memprihatinkan, karena itu, ada beberapa hal yang kiranya perlu diperhatikan dalam mencari dan menentukan kost-kostan. Dalam hal ini sang penulis memetakan menjadi lima unsur dalam kost-kostan yang ideal, yaitu: visi teologis, visi kerakyatan, visi ekonomi, faktor fisik bangunan dan lain-lain.

Waspadai Pencurian di Lingkungan Kost

_Tulisan Pendukung_

Apalah arti sebuah kebebasan apabila tidak aman dalam menyimpan hal-hal yang penting buat kita? Jika kita telusuri, kost-kostan memang rentan dalam hal pencurian. Namun kita bisa selau waspada terhadap hal-hal yang terjadi dalam lingkungan kita.

Setiap hari dalam kost-kostan begitu banyak kegiatan yang dilakukan oleh penghuni kost untuk mengisi hari-harinya di dalam tempat yang bukan tempat tinggal asli meraka. Hidup dalam kemandirian memang tidak mudah tetapi hal itu dapat memberi pelatihan kepada mereka yang hidup dalam kost-kostan.

Tidak bisa dipungkiri jika orang memilih kost berarti mereka juga harus menerima hal yang banyak sekali resikonya. Resiko yang ada sangatlah merugikan, contohnya saja kecurian. Sekarang ini pecurian barang dikost banyak sekali terjadi. Bukan hanya orang luar saja yang mencuri namun juga terkadang teman sendiri. Dalam hal ini, kita harus berhati-hati dan waspada apabila kita meninggalkan kamar kost.

Disini Ibu Lestari memberikan tips kepada orang yang tinggal dikost, pertama : kita wajib memberi gembok atau pengaman lagi pada pintu yang ada di kost, kedua : jika kita ingin kekamar kecil atau main ke kamar teman kost kita harap pintu kamar kita selalu dikunci, ketiga : jangan membiarkan orang asing masuk kekamar kita, keempat : kita harus mempunyai teman dekat di tempat kita kost jadi apabila kita pergi dalam waktu yang lama kita bisa mempercayakan kamar kita kepada orang yang kita percaya.

Tetapi tidak hanya pencurian yang perlu kita waspadai dalam kost. Kita harus pintar-pintar memilih teman yang akan mengisi hari-hari kita. Teman yang baik tentunya tidak akan menjerumuskan kita ke dalam pergaulan yang salah. Dijaman yang bebas ini banyak sekali yang memanfaatkan kost sebagai tempat untuk bermaksiat termasuk memakai narkoba dan minum-minuman keras.

Ketika dipertanyakan mereka lebih merasa aman memakai fasilitas kost-kostan dibandingkan rumah sendiri / ditempat-tempat umum. Satu hal lagi yang menjadi alasan kuat, biasanya mereka kost-kostan tidak lebih dari 1 bulan karena mereka akan berpindah kekost-kostan lainnya lagi agar mereka lebih aman. Agar tidak tercium oleh pihak yang berwajib.

Begitu juga dengan para mahasiswa-mahasiswa/i yang mengekost sekaligus menjadi tempat memakai narkoba, dan biasanya dia tidak hanya sendiri melainkan beramai-ramai dengan temannya. Bukan sebagai pengedar ataupun bandar melainkan mencari kesenangan semata. Dan biasanya kost-kostan seperti ini pemiliknya ialah orang kuat yang mempunyai jabatan tinggi, dimana jarang polisi bisa merazianya.

Kost-kostan biasanya dapat dirazia oleh aparat atau Rt / Rw setempat. Mungkin inilah yang menjadi nama awal kostan plus yang dimana dimata orang lain selalu negatif. Bila ditinjau Kost-kostan bebas ini banyak diminati oleh warga yang merantau maupun mahasiswa karena harga perbulannya yang sangat murah dan bebas untuk ditempati yaitu tidak adanya peraturan-peraturan meskipun dengan fasilitas seadanya.

NAMA      : LESTRYA RAMADHANI

NIM           : 153070106 / A





IN DEPTH NEWS (UAS)

11 01 2010

Hedonisme vs Wirausaha

-tulisan utama-

Shopping di mall, nongkrong di cafe, dan nonton film di bioskop, itulah kegiatan mahasiswa yang dapat kita saksikan dalam mengisi waktu luangnya. Suatu potret budaya hedonisme yang kian merebak di kalangan generasi muda di Indonesia saat ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terpaan berbagai media di era globalisasi ini telah merubah masyarakat Indonesia menjadi lebih bersifat konsumtif. Ditambah dengan segala kemudahan yang ada, masyarakat terlena dengan segala sesuatu yang serba instan. Sejak kecil mereka telah terbiasa memperoleh apapun yang mereka butuhkan dan mereka inginkan hanya dengan satu jentikan jari. “Kalo ada yang gampang, ngapain cari yang susah”, ucap Devi manakala ditanya mengenai kebiasaannya menghamburkan uang orang tuanya untuk memenuhi kebiasaannya berbelanja make up, pakaian dan segala pernak-perniknya yang sesungguhnya belum terlalu dia perlukan. Terlahir dari keluarga yang serba ada memang membuat perempuan yang hingga kini belum juga menyelesaikan kuliahnya sejak lima tahun itu, bersifat konsumtif. Hal serupa terjadi pada Ajeng. Meskipun dibesarkan oleh orang tua yang bercerai, tidak lantas membuatnya lebih bijak dalam menentukan perilakunya. Justru budaya boros sudah kuat tertanam pada dirinya sejak ia masih kecil. “Aku sering kok blanja-blanja sama mama”, bangganya seraya menunjukkan koleksi pakaiannya yang tidak bisa dibilang sedikit itu.

Budaya-budaya hedonisme inilah yang menuntun masyarakat Indonesia, termasuk di antaranya adalah mahasiswa, tidak mampu hidup mandiri. Terlihat dari paradigma kebanyakan mahasiswa yang berpikir untuk ‘bekerja kepada orang lain’. Setelah lulus, mereka sibuk melamar bekerja di mana, bukan berpikir untuk membuka usaha sendiri. Padahal saat ini, menjadi sarjana bukanlah jaminan untuk mudah memperoleh pekerjaan. Perusahaan semakin selektif dalam memilih karyawan. Tingkat persaingan menjadi semakin ketat. Hal ini menjadikan mereka yang tidak mampu mengikuti arus persaingan justru akan tersisih dan menambah angka pengangguran.

Bekerja kepada orang lain bukan merupakan suatu hal yang salah. Karena pada dasarnya kesempatan dan keberuntungan seseorang memang sangat menentukan nasib masa depannya. Namun, bukan hal yang salah pula mencoba membuat usaha sendiri. Istilah yang umum dipakai adalah wirausaha. Tidak sedikit orang yang sukses secara finansial melalui usaha yang dikembangkannya sendiri.

Esti Wijaya, mahasiswa di Unika Atmajaya ini adalah contohnya. Meskipun bukan seorang muslim, namun perempuan berambut sebahu ini selalu meramaikan hadirnya bulan Ramadhan. Bersama tiga orang temannya, Esti membuat sajian manis untuk berbuka puasa atau kata lainnya tajilan. “Aku emang suka masak. Lagian lumayan buwat nambah uang saku”, ungkapnya sembari tersenyum lebar. Berbagai macam puding dan kolak tidak pernah absen dari lapak yang dibuatnya di pinggiran jalan di depan kampusnya. Selain, membuka lapak, perempuan yang berasal dari Purwodadi ini juga menjajakan dagangannya ke kos-kosan sekitarnya. “Pudingnya enak. Macem-macem bentuknya”, ujar Keke, salah satu pelanggan setia dagangan Esti. Di luar bulan puasa, Esti biasa membuat berbagai macam kue. Dan ia menjual kue-kue itu kepada teman-temannya, baik di kosnya maupun di kampusnya. Meskipun belum mampu menghasilkan apapun dari usahanya tersebut, tapi setidaknya ia dan teman-temannya mampu membantu perekonomian keluarganya dengan menghemat pengeluaran uang sakunya.

Mungkin pada awalnya tidak selalu berjalan lancar. Karena pada dasarnya tidak ada hal yang mudah di dunia ini. Seperti hal yang dialami oleh Esti. “Pernah sehari itu kue yang aku bikin ga ada yang mau beli”, terang perempuan berlesung pipit ini. Namun bukan berarti usaha yang awalnya tidak lancar akan selalu berakhir dengan sebuah kegagalan. “Tidak ada yang tidak mungkin di muka bumi ini”, demikian orang biasa menyebutkannya. Bukan tidak mungkin usaha yang dirintis oleh Esti, maupun wirausahawan-wirausahawan lainnya akan berkembang dengan pesat beberapa tahun yang akan datang. Dan pada akhirnya, kewirausahaan dapat memajukan kegiatan perekonomian di negara ini. Bukankah kewirausahaan ini akan lebih bermanfaat daripada gaya hidup konsumtif yang kini banyak diganyang masyarakat Indonesia?



Tak Kenal Lelah

-tulisan pendukung-

Membantu perekonomian keluarga. Kalimat inilah yang selalu hadir dalam benak Esti Wijaya. Menjadikannya lebih kuat dan meningkatkan daya juangnya menghadapi kehidupan di era globalisasi ini.

Ketika mahasiswa seumurannya tengah sibuk memilah-milih pakaian di butik-butik, atau duduk berjam-jam di salon, Esti justru tengah sibuk berkutat di dapur kecil di kosnya. Membuat berbagai macam cemilan. Bukan karena ia gemar ngemil, tapi karena itu merupakan usahanya. Usaha kecil yang tengah dirintisnya perlahan. Baginya, itu lebih bermakna dari sekedar berfoya-foya dan menghamburkan uang. “Kalo gitu si bukan aku banget”, akunya.

Belajar dari ibunya yang juga pandai memasak, perempuan berkulit putih ini tidak menyia-nyiakan kemampuannya. “Daripada Cuma masak buat sendiri, kalo begini kan lebih bermanfaat. Apalagi banyak yang suka kue-kue bikinanku”, jelasnya panjang lebar. Hal ini diamini oleh Dian dan Resti, teman satu kos Esti yang juga pelanggan tetapnya. “Kuenya ga bikin eneg”, papar Dian disertai anggukan mantap dari Resti.

Namun, bisnis ini tidak melulu lancar. Ada kalanya hambatan juga ikut melengkapi perjalanan karirnya. Ketika kue yang dibuat gagal atau saat penjualannya tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan. “Pernah sehari itu kue yang aku bikin ga ada yang mau beli”, paparnya. Tidak hanya sekali atau dua kali saja hal tersebut terjadi, melainkan sering kali. Namun, Esti tidak pernah berhenti berusaha. Ia tetap sabar dan tidak kenal lelah. “Kalo gitu ajah nyerah, kapan bisa majunya?”, ucapnya berusaha meyakinkan diri. Dengan keyakinan yang dimilikinya itulah Esti berhasil memajukan usahanya secara perlahan.

Meskipun belum mampu memperoleh pendapatan yang besar, tetapi setidaknya dari usaha yang dilakoninya tersebut, Esti mampu membantu perekonomian keluarganya. Ia mampu membayar kos sendiri, memperoleh tambahan uang saku dan sedikit demi sedikit menambahi tabungannya. Sangat sedikit mahasiswa yang memiliki jiwa pekerja keras seperti Esti. Semangat berwirausaha inilah yang seharusnya ditanamkan kepada banyak generasi muda penerus bangsa lainnya. Agar mereka tidak terbiasa bergantung pada orang lain.

Wahyu Dwi Septiningrum

153070206

A





UAS in depth news

11 01 2010

Mesin Cuci Menjadi Mesin Uang

Bisnis Laundry merebak disetiap sudut kota Yogyakarta, bisnis ini pun sangat menjanjikan. Dibalik cucian kotor tersimpan keuntungan yang berlimpah.

Laundry, itu merupakan tempat yang sudah tidak asing bagi kita. Diberbagai daerah, diberbagai kota, kita bisa menemukannya. Bisnis ini berawal dari laundry rumahan yang kemudian berkembang menjadi laundry kiloan atau yang biasa disebut cuci kiloan yang kita tahu sekarang ini.

Laundry mulai ada karena banyak orang yang mulai sibuk dengan  aktivitasnya sampai-sampai tidak ada waktu untuk mencuci pakaian mereka sendiri. Sejak pagi mereka sudah bergelut dengan pekerjaanya atau aktivitasnya, pulang sudah larut malam, dan hanya ada satu dibenak pikiran yaitu istirahat.

Sebenarnya mencuci pakaian adalah hal yang sepele, namun kareka kesibukan, hal itupun menjadi hal yang susah untuk dilakukan. Kerena itulah, bagi pengusaha laundry bisa dibilang mencuci pakaian adalah aktivitas yang kecil namun membawa pengaruh besar dalam kehidupannya. Badar, salah satu pemilik usaha laundry mengatakan bahwa usaha laundry ini cukup menguntungkan. Dia memilih usaha ini karena prospeknya bagus untuk kedepannya. Dimana banyak orang yang malas untuk melakukan pekerjaan ini.

Pada mulanya orang tidak mengerti bisnis ini. Apa sih laundry kiloan? Itu merupakan pertanyaan yang sering ditanyakan orang. Laundry kiloan sendiri adalah Jasa Pencucian Pakaian yang pembayaran jasa pencuciannya berdasarkan timbangan berat pakaian dalam kilogram. Setelah konsumen mengetahui bagaimana laundry kiloan itu, mereka mulai menerima. Mereka akan merasakan bahwa mencuci kiloan lebih hemat dan dari usaha ini orang yang sibuk terbantu untuk pekerjaan mencuci ini. Baik konsumen maupun pemilik laundry kiloan disini saling diuntungkan. Bagi konsumen biaya mencuci sangat ringan sesuai uang yang dimiliki. Disini pengusaha laundry juga diuntungkan, karena dengan harga yang terjangkau dapat menarik konsumen yang begitu banyak.

“ Laundry sangat membantu saya. Saya selalu sibuk hampir gak ada waktu buat nyuci baju, karena itu saya membutuhkan jasa ini buat nyuci baju saya,” ungkap Sari karyawan salah satu perusahaan swasta di Yogyakarta. Hal serupa diungkapkan oleh Maya, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. “Kalau ada laundry ngapaian harus susah-susah mencuci, selain itu saya juga gak ada waktu buat nyuci,” kata gadis cantik itu.

Melihat peluang bisnis yang bagus tersebut, banyak orang yang memilih bisnis ini. Sejak itulah Bisnis ini mulai merebak diberbagai kota. Pangsa pasar untuk laundry kiloan pun sangat luas mulai dari mahasiswa, rumah tangga, rumah sakit, rumah makan, bahkan perhotelan sekalipun. Harga murah dan pelayanan yang relatif cepat menjadi daya tarik bagi para pelanggannya.

Selain sistem kiloan, ada sebagian pengelola laundry menerapkan tarif konvensional tetapi tetap disesuaikan dengan pelanggannya. Kemeja atau kaos lengan pendek misalnya, cuman dikenakan 300 rupiah perpotong. Celana panjang 700 rupiah atau celana jeans 1000 rupiah perpotong. Sebagian tempat laundry bahkan ada yang menerapkan sistem paket.

Dengan uang 30 ribu rupiah, pelanggan dapat mencuci hingga 50 potong pakaian selama dua bulan. Namun meski terbilang murah dan terjangkau, tidak semua mahasiswa memanfaatkan laundry ini. Hanya disaat-saat tertentu mereka terpaksa membawa pakaian kotor ke laundry.

Walaupun banyak system yang ditawarkan banyak tempat laundry, system kiloan lah yang banyak diminati. “lebih murah laundry kiloan daripada laundry yang dihitung per baju, karena itu saya pilih kiloan. Lebih hemat!,” ungkap Santi, pelanggan Laundry.

Dalam perkembangannya, bisnis laundry pun mulai ada yang menggunakan system waralaba. Contohnya adalah Laundry Zone. LaundryZone merupakan Waralaba Laundry Kiloan dari Yogyakarta yang menggabungkan pengalaman terbaik dari tiga Laundry Kiloan : OneDay Laundry (berdiri 2002), NeoGrand Laundry, dan Fresh Laundry. LaundryZone mulai menawarkan peluang kerjasama waralaba untuk seluruh wilayah Indonesia dengan konsep Laundry Kiloan dengan komitmen cucian setiap pelanggan tidak dicampur dengan pelanggan lain dalam proses pencuciannya. System ini pun menjanjikan bagi mereka yang ingin bekerja sama. Hal ini karena Market leader dan merek dominan, tetap tumbuh dan berkembang ditengah persaingan yang ketat di kota asalnya Yogyakarta. Laundry ini merupakan bisnis jaringan (network) sehingga dengan anggaran relatif rendah dapat mengadakan promosi yang “wah”

Sebagaimana dikatakan Aditya, laki-laki yang berusia 45 tahun ini yang memiliki salah satu cabang laundry Zone, mengatakan bahwa system waralaba mempermudah dia untuk membuka usaha landry. Dengan merek yang sudah dikenal masyarakat, laudrynya sudah banyak mendapatkan pelanggan.

Akibat dari maraknya bisnis ini, banyak orang yang memerlukan pelatihan laundry. Untuk memulai usaha laundry ini memang tidak semudah yang dipikirkan banyak orang, terutama dalam menghadapi persaingan antar usaha sejenis. Diperlukan perencanaan dan perhitungan yang matang serta strategi pemasaran yang pas dengan target pasar yang dituju. Pelatihan Laundry ini merupakan persiapan yang dilakukan orang untuk berbisnis laundry. Hal ini juga diakui oleh Badar, “Pengetahuan saya tentang laundry ini banyak saya peroleh dari pelatihan ataupun seminar. Pengetahuan itu saya terapkan dalam usaha saya ini,” ungkapnya.

Suatu bisnis akan berjalan dengan baik bila ada perencanaan yang baik dan manajemen yang baik pula. Bisnis laundry pun juga begitu. Bisnis kecil jika mempunyai strategi yang baik maka akan menuai keuntungan juga.

_Tulisan Utama_

Dari Cucian, Memetik Keuntungan

Keuntungan bukan hanya berasal dari bisnis besar saja, dari cucian pun keuntungan datang. Bisnis kecil bukan berarti kecil pula keuntungannya.

Beberapa tahun terakhir, bisnis laundry dengan pangsa pasar utama mahasiswa kian marak di Yogyakarta. Harga murah dan pelayanan yang relatif cepat menjadi daya tarik bagi para pelanggannya. Prospek usaha ini pun bagus. Dari pandangan itulah orang berminat membuka usaha ini.

Apabila kita melewati daerah gedong kuning, Yogyakarta. Dengan mudah kita akan menjumpai rumah-rumah memasang papan nama menawarkan jasa laundry. Salah satu laundry yang ada disana adalah Laundry Duloe. Laundry ini terbilang laundry baru tetapi tidak kalah bersaing dengan Laundry lainnya. Laundry Duloe merupakan salah satu Laundry kiloan yang ada.

“Senyum sapa salam” merupakan slogan yang diterapkan oleh Laundry Duloe untuk melayani pelanggannya. Dari slogan ini diharapkan pelanggan tetap setia. Berawal dari modal yang tidak begitu besar, laundry ini mencoba untuk bersaingan dengan yang lainnya.

Usaha jasa cuci pakaian milik Badar (25) ini telah berjalan hampir 2 tahun. Awalnya, Badar mencoba usaha ini karena susahnya mencari pekerjaan di jaman sekarang ini. “Usaha laundry menarik perhatian saya karena dari cucian saja kita bisa mendapat keuntungan yang lumayan,” ungkapnya.

Jika berbicara masalah keuntungan, laundry ini sudah memdapat keuntungan yang lumayan. Keuntungan itu pun bisa mengganti modal yang telah dikeluarkan. “Mendapat berkah dari tumpukan cucian kotor, itu yang saya rasakan sekarang,” katanya.

Untuk memuaskan pelanggannya, berbagai layanan ditawarkan. Layanan itu seperti, ada layanan antar-jemput, fasilitas ekspress 4 jam jadi dan ada juga layanan setrika. Hargapun relative lebih murah daripada laundry lainnya.

Dibalik keuntungan itupun, usaha ini juga ada kendalanya. Mesin rusak, listrik mati, keluhan dari pelanggan, semua itu adalah kendala yang sering diterima. Hal ini pun sesuai yang diungkapkan laki-laki berusia 25 ini, “Banyak kendala yang sering kami terima, tetapi dari situlah kita mencoba memperbaiki kekuarangan yang ada agar pelanggan tetap percaya dengan jasa kita,” ungkapnya.

_Tulisan Pendukung_

(Metta Widyaningrum)

UAS Jurnalisme Online

153070201 / A





PESTA KEMBANG API, JOGJA PERINGATI TAHUN BARU 2010

7 01 2010

PESTA   KEMBANG API, JOGJA  PERINGATI  TAHUN  BARU  2010

 

            Tepat di Km 0 Yogyakarta ( 31/12 ). Sejak pukul 7 malam ribuan warga mulai memadati Jalan malioboro yang berpusat di depan kantor pos.

            Pentas seni pun ikut memeriahkan pesta tahun baru, dengan adanya panggung hiburan dari Pemkot Jogja yang bertempat di depan monument 1 Mater .

Pukul 22.40 Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto datang beserta  rombongan sepeda dari balai kota sampai depan monument 1 Maret, Dan di sambut  duta abang-nona Jogjakarta.

            Tak hanya warga Jogjakarta yang ingin menyaksikan pesta kembang api, namun juga terdapat  turis asing yang terlihat antusias menunggu detik-detik pergantian tahun baru.

Sebelum kembang api di nyalakan, di lakukan penghitungan mundur oleh wali kota Jogjakarta, Herry Zudianto dari panggung.

            Pesta kembang api pun dimulai, Teriakan trompet tak dapat dielakan di malam tahun baru itu. Pesta kembang api yang terjadi kurang lebih 40 menit itu, tak luput dari keasyikan warga untuk  segera mengabadikan dengan Vidio Hp dan foto.

 Setelah selesai, warga pun mulai meningalkan tempat dan kemacetan pun tak dapat di elakkan lagi. Namun ada juga warga yang ingin menghabiskan waktu pergantian tahun baru sambil nongkrong bersama teman dankeluarga di tepi jalan.

( Kharisma Ayu )





RIBUAN ORANG BERLIBUR KE KALIURANG

7 01 2010

RIBUAN  ORANG  BERLIBUR  KE  KALIURANG

 Yogyakarta (30/12) Memperingati hari libur natal dan tahun baru, Objek wisata kaliurang di padati pengunjung. Atmadi Kurniawan, petugas di pemungutan retribusi (TPR) menjelaskan bahwa pengunjung tahun ini naik 10% di bandingkan tahun lalu.

Kepadatan di kaliurang mulai terlihat sejak hari kamis lalu. Bila tahun lalu pengunjung hanya mencapai 1600 orang, namun sekarang pengunjung mencapai 1800 wisatawan.

            Wisatawan yang berkunjung ke kaliurang tidak hanya dari dalam kota, namun juga dari luar kota, jelas pria separuh baya ini.

Dari nomor kendaraan yang masuk ke objek wisata kaliurang. Kebanyakan pengunjung lokal menaiki sepeda motor, sedangkan pengunjung luar kota menggunakan mobil pribadi.

            Objek wisata yang buka dari pagi hingga malam hari ini, tiap harinya  mencapai 7ribu wisatawan. Atmadi melanjutkan, bahwa untuk menjaga keamanan dan ketertipan di hari libur ini, Objek wisata Kaliurang mulai menambah jumlah TPR atau polisi agar keamanan dan ketertipan tetap  terkendali.

( Kharisma  Ayu )





KULINER KHAS KALIURANG JOGJA

7 01 2010

KULINER  KHAS  KALIURANG   JOGJA

JADAH, TEMPE, MBAH CARIK 

  

 

 

Jika ke kaliurang, tak lengkap rasanya bila tak mencicipi jadah, tempe mbah carik. Heeemmm,,nyemm,,nyeeemm..

 

       

     Usaha yang di rilis sejak tahun 1950 an ini  berawal dari Alm Sastro Dinamo yang sering di kenal mbah carik.  Ida Kurbiasih, salah seorang penerus usaha jadah, tempe mbah carik mulai menjelaskan, bahwa awalnya dulu tak ada yang menyukai, meskipun di produksi orang jawa asli.

            Namun semuanya seolah berubah, ketika Sri Sultan IX tak sengaja mencicipi jadah mbah carik, Makanan yang bahan dasarnya ketan dan kelapa ini, ternyata membuat Sri sultan IX jatuh cinta dengan rasanya yang gurih dan agak lengket. Sejak saat itu Sri Sultan IX sering mengutus abdi dalemnya untuk membeli jadah mbah carik.

            Dari situlah usaha ini mulai berkembang, lanjut Ida dengan antusiasnya. Usaha ini di teruskan oleh cucu mbah carik, yaitu Mbah Sudirman, namun karena usianya telah 76 tahun, Sehingga di lanjutkan oleh keturunannya yang lain, dan pastinya termasuk saya, tutur wanita yang ramah ini.

            Harga yang di tawarkan sangat terjangklau, hanya 18000 untuk paket A, yang berisi jadah, tempe, dan tahu 30 buah. Usaha ini kini telah memiliki  banyak cabang, di antaranya di telaga putri, regolan, dan jalan Astamulyana Kaliurang 76.

            “ Kunjungi dan buktikan sendiri rasanya, karena banyak yang bilang kalau jadah dan tenpe mbah carik ngangenin”, tegas Ida Kurniasih dengan senyum ramahnya.

( Kharisma Ayu )





” Di Balik Keindahan Pantai Parangtritis.. ?! “

29 12 2009

DI BALIK   KEINDAHAN   PANTAI   PARANGTRITIS.. ?!

                    Siapa  yang tak kenal pantai Parangtriti?. Pantai dengan sejuta pesonanya, dan  ombaknya yang besar, seolah menambah daya tarik tersendiri bagi tiap hati pengunjung. Tetapi  di balik keindahan pantai parangtritis, sangat di sayangkan. Karena kini ketika kita berkunjung ke pantai parangtritis, akan kita jumpai kotornya pantai karena sampah yang berserakan dan buruknya moral di malam hari. Hal ini seolah menjadikan sebuah ironi di parangtritis. Lalu siapa yang harus dipersalahkan?

 Tim  Djogjalicious mencoba menyelusuri, untuk mendapatkan jawabannya ?!

                       Parangtritis merupakan salah satu wisata pantai yang paling diminati oleh wisatawan. Dibalik kekurangannya tersimpan Sejuta Pesona yang menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik pengunjung. Dari dulu hingga sekarang pantai parangtritis tetap menjadi salah satu icon di Yogyakarta.

                      Walaupun banyak kekurangan seperti sampah yang merusak pemandangan dan adanya tempat prostitusi, pantai ini menyimpan berbagai pesona yang sangat menarik dibalik kekurangannya, baik pesona alamnya maupun legendanya. Kekurangan itupun tidak jadi masalah bagi wisatawan setelah mereka melihat indahnya pemandangan alam disana. Menikmati pemandangan alam tentu menjadi yang paling utama yang dilakukan wisatawan.

                     Di kawasan parangtritis, tidak hanya terdapat wisata pantai saja, tetapi juga ada objek wisata budaya atau sejarah yang terdapat di daerah sekitar pantai parangkusumo, objek wisata religious yang berada di desa grogol dan objek wisata sungai opak, serta objek wisata pendidikan di sekitar gumuk pasir. Selain beberapa objek wisata yang disebutkan, ada beberapa tempat wisata lain yang mempunyai peran yang cukup potensial pula dalam kapariwisataan kabupaten bantul.

                      Namun dari beberapa objek wisata di kabupaten bantul, pantai parangtritis adalah objek wisata yang paling banyak dikunjungi. Wisata pantai ini tetap mnenjadi andalan. Hal ini terlihat dari Jumlah wisatawan yang berkunjung. “Walaupun ada banyak tempat pariwisata di yogyakarta, pantai parangtritis tetap menjadi pilihan utama bagi para wisatawan, “ kata Dinas Pariwisata, Sukarman.

                  Sebagaimana dikatakan Sukarman, lelaki yang kini genap berusia 40 tahun, dan juga bekerja sebagai staf  Dinas Pariwisata Bantul, menyatakan bahwa, Ada dua hal yang selama ini masih menjadi kendala dalam menciptakan kawasan pantai parangtritis yang asri, yang pertama adalah masalah kebersihan fisik, yaitu sampak yang semakin hari volumenya semakin banyak, hingga merusak pemandangan pantai, sebenarnya kami dari Dinas Pariwisata Bantul, telah mengerahkan 33 personil untuk membersihkannya pantai dari pagi hingga siang hari, namun semakin banyaknya pengunjung maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan dan itu sudah menjadi resiko tiap objek wisata di manapun, tegas Sukarman.

                    Namun yang menjadi pertanyaan Djogjalicious, bagaimana manajemen pengelolaannya ??, pertanyaan ini mulai dijawab oleh Sukarman sambil membukakan buku data APBD, Ia menyatakan,  Yah,, lagi-lagi masalah dana yang menjadi kendala kami. Meminta dana dari pemerintah, tidak segampang membalikkan telapak tangan, semua ada prosedur dan ada yang harus di prioritaskan,. Bila pihak kami ingin meminta dana tambahan, maka harus mengajukan proposal yang harus di setujui dari tingkat RT, RW,  Desa, Kabupaten, provinsi, pusat dan setelah melalui proses yang panjang,

                Dana dari hasil penjualan tiket masuk objek wisata Parangtritis  tersebut nantinya harus disetorkan kepada Dinas Pariwisata untuk kemudian disampaikan ke Pemerintah Daerah sebagai pendapatan asli daerah ke dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Setelah itu baru diproses – dengan proses yang panjang tentunya – sehingga dapat diperoleh dana yang dianggap sesuai untuk perawatan Pantai Parangtritis. Pemerintah juga memiliki skala prioritas dalam memberikan kucuran dana, yang mana pemerintah lebih memprioritaskan bidang pendidikan dan kesehatan yang masih di anggap kurang pada tahun ini.

                     Hal ini pastinya sangat di sayangkan oleh semua pihak, Belum lagi semakin menjamurnya PKL (Pedagang kaki Lima) di tepi pantai parangtritis, Tim Jogjalicious sempat mewawancarai  Sri, salah satu PKL yang sedang menjajakan barang dagangannya, yang kini genap berusia 40 tahun, dia mengaku sudah bekerja selama 3 tahun di pantai Parangtritis, Memilih tempat  ini karena  pengunjung lebih ramai di tepi pantai. Ia juga mengaku pernah di grebek oleh Satpol PP karena sebenarnya tidak boleh berjualan di tepi pantai, dan  mengganggu pengunjung pantai. Tapi menurut ibu dua anak ini, hal tersebut tidak mengganggu karena setiap pengunjung yang ingin membeli jajanan disini  tidak harus jauh-jauh jalan ke depan lagi untuk membeli sesuatu.

                   “Walaupun sudah lebih dari 3 kali saya disini selalu digrebek satpol PP, tetapi tetap saja saya kembali ke kawasan pantai ini untuk berdagang. Keuntungan atau kesenangan lain yang saya dapat jika berjualan disini adalah bisa dekat dengan pengunjung, sehingga keuntungan penjualan saya lebih banyak”, tuturnya.

                     Pendapat lain di sampaikan oleh, Suyanto (24) Ia adalah seorang petugas kebersihan, “Pantai ini sejak ramai dikunjungi banyak pengunjung pada tahun 1980an, sejak saat itulah banyak pedagang PKL yang berjualan juga di kawasan pantai, itu sangat mengganggu keindahan pantai. Sebenarnya pihak dari Dinas Pariwisata sudah memberikan tempat tersendiri bagi PKL yang ingin berjualan, tetapi PKL tetap saja kekeh dengan berjualan di tempat yang tidak semestinya untuk berdagang. Itu membuat kawasan yang tadinya bersih menjadi kotor”, jelasnya. Semoga kesadaran masyarakat dan PKL ada untuk menjaga pantai tetap bersih.

                    Di tempat terpisah, Tim Djogjaliciou mencoba meminta pendapat pengunjung, dan ia menjelaskan bahwa, “Sangat disayangkan, pantai ini mulai dikunjungi oleh pengemis, mungkin saya dan pengunjung lain merasa sedikit terganggu dengan hal itu karena mungkin kita ingin menikmati keindahan pantai ini tetapi justru melihat pemandangan yang tidak menyenangkan”. Komentar  Gilang (24 th), wisatawan dari Jawa Barat. Ia menambahkan, bahwa Parangtritis ini sebaiknya tetap dijaga keindahannya supaya makin banyak pengunjung dan seharusnya pantai ini sering dijadikan ajang promosi sampai ke Luar Negeri kalau perlu supaya tourist asing juga berkunjung kemari.

                  Namun permasalahannya, tak sedikit PKL yang tetap bersikukuh untuk tetap berjualan di tepi pantai Parangtritis.Lalu apa tindakan Dinas Pariwisata Bantul??. ”Para PKL sebenarnya telah di beri tempat yang cukup luas dan layak, namun tak banyak yang mau untuk menjajakan barang dagangannya di tempat yang telah kami sediakan, dan alasannya sama saja seperti yang mereka ungkapkan”, jelas Sukarman Staf Dinas Pariwisata Bantul. Dirinya menambahkan, Namun dinas pariwisata sebenarnya tidak berhenti sampai di situ, kami selalu bekerjasama dengan satpol PP untuk memberikan pengarahan melakukan razia, Kami juga memiliki kegiatan sadar wisata dan sapta pesona yang diadakan tiap bulan sekali dengan tujuan memberikan kesadaran dan pengarahan bagi pengunjung, penduduk setenpat, termasuk juga Para PKL akan pentingnya menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan.

                      Kegiatan yang telah ada sejak tahun 1993 ini, menuruk teropong Djogjalicious tidak begitu membuahkan hasil  yang baik, karena seperti apa yang telah kita lihat tiap berkunjung di parangtritis, tidak seindah dulu. Sehingga Tim Djogjalicious tidak mendapatkan jawaban yang pasti, ketika Sukarman hanya menjawab, bahwa Dinas Pariwisata Bantul akan terus bekerja dan melakukan yang terbaik demi keasrian pantai parangtritis.

                        Masalah  non fisik, yang juga  menjadikan pesona parangtritis menjadi sebuah ironi adalah kebobrokan moral yang  di lakukan para pelaku ( PSK dan lelaki hidung belang) di pantai parangtritis, seolah tak dapat di ragukan lagi keberadaan para PSK yang justru mereka memiliki daerah pusat, yaitu di daeran Mbolong, Parangtritis.

                    Sangat ironi, ketika tim Djogjalicious menemukan salah seorang PSK yang ternyata masih duduk di bangku sekolah, sebut saja ia sekar, ganis yang usianya masih  18 tahu ini, mengaku bahwa ia melayani nafsu seksual para hidung belang itu, semalam sekar biasanya bisa melayani tiga sampai enam hidung belang, dengan bayaran yang dia tentukan, dia siap melayani para hidung belang tersebut, “saya sih tidak melihat dia jelek atau sudah tua, yang penting dia mempunyai uang yang banyak dan siap berkencan dengan saya” , ucapnya sambil menghisap sebatang rokok. Tak ada rauk menyesal di wajah polosnya, gadis yang tiap malam mendapat honor 600ribu -1 juta ini mengaku, kalau dia  juga bersedia diajak keluar sesuai permintaan si hidung belang, bisa di hotel, villa atau di mobil. Sekar menambahkan, “bahwa saya tahu kalau pintu surga tidak akan terbuka untuk saya, namun mau bagaimana lagi himpitan ekonomi juga memaksa saya untuk melakukan hal tersebut”. Tegasnya.

                    Djogjalicious, menanyakan keberadaan PSK di mata sosiologi, oleh Dosen Sosiologi UPN “V” Yogyakarta, Retno,S.Sos.M,Si, menjelaskan bahwa tindakan sosial merupakan tindakan-tindakan yang berorientasi pada orang lain. Sehingga PSK (Pekerja Sex Komersial) di masyarakat tidak perlu di berantas dengan razia atau garuan, dsb, karena itu adalah suatu penyakit masyarakat. Ibu dari dua anak ini menambahkan, bahwa banyak faktor yang mengakibatkan seseorang memilih untuk menjadi PSK, karena lingkungan keluarga yang tidak harmonis, kebutuhan ekonomi yang mendesak, lingkungan pertemanan, bahkan media massa yang memberikan efek negatif terhadap masyarakat.

                   Solusi terbaik yang seharusnya di lakukan dalam menangani masalah ini adalah memahami dari si pelaku (PSK), Dan kenapa mereka melakukan tindakan tersebut?. Jangan hanya menyalahkan PSK, karena PSK tidak dapat di hilangkan selama masih ada lelaki hidung belang. Dengan demikian harus melakukan pendekatan dan sosialisasi secara bertahap dan berkelanjutan.

                     Dimana Pemerintah harus bersinergi dengan Departemen Agama dan Dinas Sosial secara komprehensif untuk membangun moral masyarakat, khusurnya PSK dan lelaki hidung belang. Tegas wanita yang kini telah merampungkan studi S2 di Universitas Gajah Mada.

                    Di tempat terpisah. Djogjalicious mencoba menanyaka ke pada Dinas Pariwisata Bantul tentang keberadaan PSK. Sukarman menjelaskan, bahwa masalah PSK bukan tanggung jawab Dinas Pariwisata seutuhnya, namun Dinas Pariwisata Bantul telah bekerjasana dengan satpol PP, Kepolisian, bahkan kepada Dinas Kesehatan Bantul untuk terus memberikan penyuluhan dan pemahaman ke pada para PSK, dan ketika ada PSK yang mau untuk berubah, maka mereka akan di beri modal sebagai usaha.

                   Dirinya juga menambahkan, untuk 5 tahun ke depan, Kawasan Parangtritis diharapkan menjadi sebuah kawasan wisata yang didalamnya tumbuh berkembang berbagai kehidupan, baik kehidupan alami-budaya maupun sosial-ekonomi, yang semuanya itu hidup berdampingan saling menjaga hubungan satu dengan yang lainya membentuk sebuah lingkungan hidup yang harmonis. kawasan parangtritis sebagai sebuah kawasan wisata yang asri dan berkesan bagi wisatawan, Hingga dapat menjawab keluhan wisatawan selama ini  akan kebersihan fisik dan non fisik pantai parangtritis, Tegasnya.

                  Semoga saja itu bukanlah sebuah lagu untuk hati yang sendu. Karena mimpi bukan sebuah harapan, tetapi mimpi adalah perjuangan yang harus di wujudkan. Akankah Dinas Pariwisata Bantul dapat mewujudkannya??… Kita tunggu saja!!

 Penulis              : Kharisma Ayu Febriana

 Pewawancara   : Kharisma Ayu Febriana / Metta Widyaningrum / Lestrya Ramadhani /  Wahyu Dwi Septiningrum /       Ikhsan Hikmawan

 Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

JADI ANDALAN, WALAUPUN BANYAK KEKURANGAN

 

                 Diakui, parangtritis wisata pantai yang paling diminati oleh wisatawan. Dibalik kekurangannya tersimpan Sejuta Pesona yang menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik pengunjung.

                    Parangtritis merupakan wisata pantai yang paling terkenal di Yogyakarta. Pantai ini tidak hanya terkenal di Indonesia akan tetapi sudah sampai ke mancanegara. Parangtritis menjadi tujuan utama bagi wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing. Pantai yang cantik ini terletak di Kabupaten Bantul, sekitar 27 kilometer dari Kota Yogyakarta ke arah selatan, memanjang dari ujung timur yang di batasi oleh tebing pegunungan ke arah barat hingga pantai-pantai selanjutnya yaitu Parangkusumo, Depok, dsb.

                    Dari dulu hingga sekarang pantai parangtritis tetap menjadi salah satu icon di Yogyakarta. “Pantai ini begitu indah walaupun banyak juga pantai lain di Jogja yang tidak kalah menarik, tapi lihat saja, bagi penduduk luar Jogja jika ingin berkunjung ke Jogja pasti tidak akan melewatkan pantai indah ini,” tutur Gilang, pemuda tampan yang sering mengunjungi pantai parangtritis. Walaupun banyak kekurangan seperti sampah yang merusak pemandangan dan adanya tempat prostitusi, pantai ini menyimpan berbagai pesona yang sangat menarik dibalik kekurangannya, baik pesona alamnya maupun legendanya. Kekurangan itupun tidak jadi masalah bagi wisatawan setelah mereka melihat indahnya pemandangan alam disana. Menikmati pemandangan alam tentu menjadi yang paling utama yang dilakukan wisatawan.

                    Untuk menikmati suasana pantai, bisa dengan berjalan di tepian pantai dan bisa juga dengan menyewa bendi yang ada disekitar pantai. Bendi merupakan ciri khas pantai parangtritis yang digunakan pengunjung untuk melihat pemandangan disepanjang pantai. Pemandangan yang paling menarik yang bisa disaksikan oleh pengunjung adalah ketika matahari terbenam (sunset), sehingga banyak para wisatawan yang rela untuk menunggu sampai sore untuk menyaksikan sunset di pantai ini. Dari parangatritis hanya sunset lah yang bisa di saksikan karena matahari terbit (sunrise) terhalang oleh pegunungan di sebelah timur parangtritis. “Saya datang kesini ingin melihat matahari terbenam yang terlihat cantik, sekalian menikmati indahnya pantai parangtritis,” kata Santi, gadis cantik yang berkunjung di pantai parangtritis.

                    Selain pesona alamnya, pantai parangtritis terkenal dengan Legendanya yaitu legenda Nyai Roro Kidul atau Ratu Penguasa Laut Selatan. “Legenda Ratu pantai selatan sudah tidak asing lagi bagi saya, bila mendengar Ratu pantai selatan yang saya ingat adalah pantai parangtritis, “ ungkap Nina salah satu pengunjung. Hal serupa juga diungkapkan oleh Deni pengunjung pantai parangtritis, menurut dia pantai parangtritis menarik perhatiannya, selain panorama alam yang indah, dia juga penasaran dengan pantai yang selalu dikaitkan dengan cerita Nyai Roro Kidul.

                     Disamping itu, Parangtritis juga terkenal karena digunakan sebagai tempat untuk pelaksanaan upacara labuhan yang diadakan oleh keraton Yogyakarta tiap waktu tertentu. Upacara labuhan merupakan wujud syukur masyarakat Yogyakarta khusunya para nelayan atas ‘berkah laut kidul’ yang telah diberikan kepada mereka. Dalam upacara ini dilakukan larungan terhadap berbagai macam persembahan yang ditujukan kepada penguasa laut kidul yaitu Nyai Roro kidul yang di percaya masyarakat telah memberikan kesejahteraan dan keselamatan dalam mencari rejeki di laut kidul.

                   Di kawasan parangtritis, tidak hanya terdapat wisata pantai saja, tetapi juga ada objek wisata budaya atau sejarah yang terdapat di daerah sekitar pantai parangkusumo, objek wisata religious yang berada di desa grogol dan objek wisata sungai opak, serta objek wisata pendidikan di sekitar gumuk pasir. Selain beberapa objek wisata yang disebutkan, ada beberapa tempat wisata lain yang mempunyai peran yang cukup potensial pula dalam kapariwisataan kabupaten bantul.

                   Dari beberapa objek wisata di kabupaten bantul, pantai parangtritis adalah objek wisata yang paling banyak dikunjungi. Wisata pantai ini tetap mnenjadi andalan. Hal ini terlihat dari Jumlah wisatawan yang berkunjung. “Walaupun ada banyak tempat pariwisata di yogyakarta, pantai parangtritis tetap menjadi pilihan utama bagi para wisatawan, “ kata Dinas Pariwisata, Sukarman.

Data Kunjungan Wisatawan ke Pantai Parangtritis Tahun 2003 hingga 2006

No. Tahun Jumlah Wisatawan
1. 2003 1.421.202
2. 2004 1.384.320
3. 2005 1.341.931
4. 2006 795.432
5. 2007* 821.526

*Data hingga November 2007

Sumber : Diperda, Kabupaten Bantul, Tahun 2007

 Penulis              : Metta Widyaningrum

Pewawancara : Metta Widyaningrum /  Kharisma Ayu Febriana  / Lestrya Ramadhani / Wahyu Dwi Septiningrum /  Ikhsan Hikmawan

 Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

KAPAN SAMPAH INI AKAN  BERAKHIR ?? 

             Panas menyengat, disertai angin yang berhembus kencang. Hamparan pasir terlihat indah tersapu ombak yang mulai pasang. Tapi dari sisi lain, tidak sedikit sampah yang menumpuk membentuk gundukan. Tampak tak terawat dan tak terurus. Inilah gambaran Parangtritis saat ini. Tidak lagi asri seperti dulu lagi.

 

 

 

                   Banyak keluhan yang datang dari kondisi pantai seperti ini. Penuh sampah. Tidak mengherankan, karena hal itu juga diiyakan oleh Sukarman, staff keanggotaan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. “Pengunjung mengeluh, tentu saja. Apalagi ini tempat pariwisata, sudah barang tentu menjadi sorotan banyak orang”, ungkap bapak berkulit sawo matang ini.

                 Keluhan masyarakat akan sampah baik secara fisik maupun nonfisik di Pantai Parangtritis agaknya tidak mungkin akan terselesaikan seutuhnya. Banyak faktor yang menghambat proses pembenahan dan perbaikannya. Salah satu diantaranya adalah terkait masalah pendanaan.

                Ya, dana. Lagi-lagi dana yang menjadi masalahnya. Memang dana adalah masalah yang tidak akan pernah ada habisnya. Terutama di Indonesia. Tidak hanya di kalangan bawah, kalangan atas juga mulai diperbudak hal-hal yang terkait dengan uang. Problematika ini agaknya menyerang di berbagai bidang. Ekonomi, politik, sosial, budaya, semuanya. Lantas ada apa dengan pendanaan di Pantai Parangtritis?

                 Tumpukan sampah yang tampak pada beberapa tempat di Pantai Parangtritis merupakan sumbangsih dari berbagai pihak, mulai dari pengunjung yang membuang sampah seenaknya, pedagang kaki lima (PKL) yang turut menyisakan sampah jualannya, bahkan sampah kiriman dari tempat lain ikut pula memadati area pantai ini. “Sejak ramai pengunjung, sejak saat itulah banyak pedagang PKL yang berjualan juga di kawasan pantai”, ujar Suyanto, petugas kebersihan yang kala itu bertugas membersihkan Pantai Parangtritis. Dan baginya, itu sangat mengganggu keindahan pantai. Apalagi semakin tahun, jumlah pengunjung selalu meningkat. Dan bisa dipastikan jumlah PKL juga ikut meningkat. Dengan demikian volume sampah yang menghuni kawasan ini pun ikut bertambah. Selain itu, ketidakadaan fasilitas kebersihan yang memadai ikut menjadi penunjang munculnya banyak sampah.

                   “Berbagai upaya telah kami lakukan untuk menanggapi keluhan mengenai sampah tersebut, tapi sekali lagi, masalahnya adalah pada sulitnya dana yang kami peroleh”, terang Sukarman, staff keanggotaan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul.

                  Menurutnya, pihaknya telah mengerahkan petugas kebersihan untuk membersihkan area pantai ini, dan mereka bertugas setiap hari. Namun, tetap saja sampah berserakan kembali. Ini dikarenakan jumlah petugas kebersihan yang hanya 33 orang untuk wilayah Parangtritis yang sedemikian luasnya yaitu 967.2010 Ha. “Sebenarnya sangat susah untuk  membersihkan kawasan pantai sebesar ini dengan pekerja yang sangat terbatas”, ungkap salah satu petugas kebersihan pantai Parangtritis, Suyanto.

                  Hal ini, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa tidak terlepas dari masalah pendanaan. Dana yang dialokasikan Pemerintah Pusat untuk pembenahan pariwisata di Yogyakarta, terutama Pantai Parangtritis masih jauh dari cukup. Belum lagi proses yang berbelit membuat pencairan dana terasa semakin sulit.

                     Proposal yang diajukan harus melalui proses yang panjang untuk dapat disahkan sehingga dana dapat mengalir. Mulai dari tingkat kabupaten hingga dinas pusat, pengesahan terkesan berbelit-belit. Belum lagi pemerintah juga mempunyai skala prioritas yang menempatkan pariwisata pada urutan kesekian setelah pendidikan, kesehatan, dan bidang-bidang yang lainnya.

                    “Yang diutamakan dari pemerintah daerah itu pendidikan dan kesehatannya”, Sukarman mencoba menambahkan. Hal ini menjadikan semakin kecilnya dana yang diperoleh untuk memajukan pariwisata di kota Bantul, terutama Pantai Parangtritis. Bahkan bukan tidak mungkin proposal yang diajukan tidak memperoleh pengesahan dari pemerintah. “Karena mereka kan punya kriteria tersendiri untuk mengesahkan proposal”, lanjutnya.

                 Sementara itu, pemasukan dari wisatawan yang mengunjungi Pantai Parangtritis pun tidak dapat dipergunakan secara langsung untuk meningkatkan kualitas pantai, terutama berkaitan dengan kebersihan dan kerapihannya. Hal ini dikarenakan pemasukan tersebut nantinya harus disetorkan kepada Dinas Pariwisata untuk kemudian disampaikan ke Pemerintah Daerah sebagai pendapatan asli daerah ke dalam APBD (Anggaran Dasar dan Belanja Daerah). Setelah itu baru diproses – dengan proses yang panjang tentunya – sehingga dapat diperoleh dana yang dianggap sesuai untuk perawatan Pantai Parangtritis.

Penulis              : Wahyu Dwi Septiningrum

 Pewawancara   : Wahyu Dwi Septiningrum / Metta Widyaningrum / Kharisma Ayu    Febriana / Lestrya Ramadhani / Ikhsan Hikmawan

Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

SEKAR,  KUPU-KUPU MALAM  DI PARANGTRITIS 

Keindahan pantai parangteritis merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, tempat porsitusi pun tak luput dari sorotan mata para pengunjung, tempat terselubung ini menjadi bercak noda yang menyimpan sejuta misteri dan sulit dihilangkan.

                    Sekar, 18 tahun (nama samaran), seorang siswa di salah satu SMA negeri yang ada di kabupaten Bantul ini sangat polos dan murah senyum, tidak ada perbedaan yang sangat menonjol dari diri gadis ini, Setiap pagi dia biasa menjalankan aktifitasnya sebagai siswa yang baik, dengan mengayun sepeda ontelnya sejauh 5 kilo meter tidak terlihat wajah putus asa yang terlihat dari wajahnya, yang ada malah keceriaan dan pantang menyerah, dibawah terik matahari yang terus mengikutinya dia tetap bersemangat untuk bersekolah. Gadis yang mempunyai cita-cita sebagai pramugari ini termasuk murid teladan disekolahnya.

                  Tapi siapa sangka?.., dibalik kopolosan dan kebahagiaanya itu tersimpan mimpi buruk, Dia adalah salah satu dari sekiaan banyak Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ada di daerah wisata pantai Mbolong, dengan muka bimbang dia meluangkan waktunya kepada Tim Djogjalicious untuk menceritakan sisi lain dari kehidupannya sebagai pelajar.

                   Duduk di pojok warung yang ditutupi terfal, dengan semilir angin laut yang menyapu rambut panjangnya dia mulai menceritakan kisahnya. Malam mulai menyelimuti pantai Mbolong, Sekitar jam sembilan gadis kelahiran kota hujan (Bogor) ini mulai keluar dari rumahnya yang tidak jauh dari pantai mbolong, dengan pakaian yang sexi dan make up yang membalur diwajahnya dia beraksi mencari para pria hidung belang yang ingin memakai jasanya, Duduk diantara PSK lainnya sekar mulai menggoda para tamu hidung belang, “pantainya yang indah dan banyaknya pasien”, (pria hidung belang) yang ating itu alasan saya kenapa memilih pantai Mbolong sebagai tempat mangkalsaya” ujarnya sambil meneteskan air mata tanda penyesalan.

                   Dengan hati yang terpuruk dia melayani nafsu seksual para hidung belang itu, semalam sekar biasanya bisa melayani tiga sampai enam jidung belang, dengan bayaran yang dia tentukan dia siap melayani para hidung belang tersebut, “saya sih tidak melihat dia jelek atau sudah tua, yang penting dia mempunyai uang yang banyak dan siap berkencan dengan saya” , ucapnya sambil menghisap sebatang rokok. Dia juga bersedia diajak keluar sesuai permintaan si hidung belang, bisa di hotel, villa atau di mobil.

                 Gadis yang sekarang duduk dibangku kelas tiga SMA ini mengaku terpaksa melakukan pekerjaan haram ini karena desakan ekonomi yang semakin tertekan, “saya selama tujuh bulan terpaksa menjalaninya untuk menyambung hidup saya dan keluarga saya” dengan logat khas sundanya, Ayahnya sudah meninggal sejak dia berusia 10 tahun, dimana dia menbutuhkan kasih sayang dari seorang ayah, malah dia ditinggalkannya dengan banyak beban, ibunya hanya berjualan jajanan di depan rumah, Dengan penghasilan yang jauh dari cukup yang membuat saya terpaksa menjalani pekerjaan haram ini untuk membiayai sekolahnya dan menbayar hutang yang ditinggakkan ayahnya selama masih hidup.

                  Semalam gadis ini bisa mendapatkan uang 600 ribu dan sebulan bisa mencapai 15 juta, uang itu dia pergunakan untuk menbayar sekolahnya, dan menabung terus sisanya dipakai untuk menbeli HP, sopping, dan voya-voya bersama teman-temannya. Dia berambisi mewujudkan mimpi ibunya yang ingin sekali menjalankan rukun ating yang kelima yaitu pergi ke tanah suci. 

                   Setiap mengkal dia dihantui rasa takut karena seringnya razia yang dilakukan satpol PP perhadap PSK yang sangat meresahkan masyarakat ini, sekalinya ada razia mereka lari dan pindah ke tempat lain, tapi sebelum adanya razia, sebagian dari mereka sudah mengetahuinya, jadi mereka sudah siap untuk melarikan diri, itu dikarenakan ada opnum dalam sendiri yang menberitahunya kepada kami”, jadi razia itu Cuma formalitas saja” kata mamih sebagai bos. Mereka dijamin bebas dari penyakit kelamin seperti HIV / AIDS karena mereka rutin memeriksa diri ke rumah sakit selama dua minggu sekali. Dan selalu memakai alat pengaman setiap melayani para hidung belang. Sekilas ada keingin untuk berhenti dari pekerjaan yang penuh resiko ini, dan bertobat untuk menjalani hidup normal. “Tapi dosa yang sudah saya tanggung tak termaafkan dan pintu surga sudah tidak mungkin terbuka untuk saya”, tutur gadis belia itu dengan rauk haru. Walaupun tiada kata terlambat untuk bertobat.

 Penulis : Ikhsan Hikmawan

 Pewawancara   : Ikhsan Hikmawan / Kharisma Ayu Febriana / Wahyu Dwi Septiningrum / Metta Widyaningrum /  / Lestrya Ramadhani

 Foto                 :

LIBATKAN  DINAS  SOSIAL DAN DINAS AGAMA,

BANGUN  MORAL

Oleh Retno.S,Sos.Msi

 

                   Masalah PSK (Pekerja Sex Komersial) tak dapat di selesaikan dengan satu pihak, namun pihak-pihak terkait harus saling bekerjasama untuk menyelesaikan masalah tersebut, tutur Retno,S,sos.Msi, Dosen Sosiologi Komunikasi Fisip

                     Retno,S.Sos.M,Si, menjelaskan dengan mengambil teori Webber, dalam ilmu Sosiologi, Tindakan sosial merupakan tindakan-tindakan yang berorientasi pada orang lain. Sehingga PSK (Pekerja Sex Komersial) di masyarakat tidak perlu di berantas dengan razia atau garuan, dsb, karena itu adalah suatu penyakit masyarakat.

                     Banyak faktor yang mengakibatkan seseorang memilih untuk menjadi PSK, karena lingkungan keluarga yang tidak harmonis, kebutuhan ekonomi yang mendesak, lingkungan pertemanan, bahkan media massa yang memberikan efek negatif terhadap masyarakat.

                Wanita asli Jogja yang lahir 41 tahun lalu ini menambahlan, bahwa Media sekarang ini seolah lupa akan fungsinya sebagai media untuk memberikan nilai pendidikan, hingga yang di utamakan adalah nilai komersial.

                Sebagai contoh, tayangan reality show “Temehek-mehek”  yang sebenarnya tayangan tersebut memberikan dampak negatif bagi masyarakat, khususnya anak remaja yang jiwanya sangat labil.seolah masyarakat disuguhi pada pembiasaan bahwa persoalan perselingkuhan, berani kepada orang tua, gaya hidup glamor adalah hal yang biasa. Dan juga berita investigasi yang terlalu menjelaskan adegan ulang pelaku secara detail, justru itu dalam teori komunikasi akan menjadikan efek pembelajaran bagi masyarakat, yang bila terjadi terus-menerus akan menjadi sebuah kebiasaan.

                   Hal terpenting yang harus dilakukan dalam menangani masalah ini adalah memahami dari si pelaku (PSK), kenapa ia melakukan tindakan tersebut ? . Jangan hanya menyalahkan PSK, karena seperti hukum ekonomi, “ Bila permintaan terus bertambah, maka barang” juga akan terus ada” , dalam arti bahwa PSK tidak dapat di hilangkan selama masih ada lelaki hidung belang. Dengan demikian harus melakukan pendekatan dan sosialisasi secara bertahap dan berkelanjutan.

                 Dimana Pemerintah harus bersinergi dengan Departemen Agama dan Dinas Sosial secara komprehensif untuk membangun moral masyarakat, khusurnya PSK dan lelaki hidung belang. Tegas Dosen FISIP UPN”V” Yogyakarta, yang kini telah merampungkan studi S2 di Universitas Gajah Mada.

 Penulis              : Kharisma Ayu Febriana

 Pewawancara   : Kharisma Ayu Febriana

 Foto                 : Kharisma Ayu febriana

MEREKA  BICARA  PARANGTRITIS

Kebersihan  Pantai semestinya  dijaga !!

                    Suyanto 45 th (Petugas Kebersihan Parangtritits)

                  Sejak kecil saya sudah tinggal di kawasan pantai parangtritis ini. Dulu mulanya Saya bisa kerja disini karena memang pekerjaan yang susah dicari dimana-mana dan juga membutuhkan lulusan-lulusan sarjana. Saya tetap merasa senang walaupun kerja disini menjadi petugas kebersihan parangtritis karena saya memang sudah mencintai pantai parangtritis. Saya membersihkan pantai parangtritis ini bersama 36 pekerja lain. Sebenarnya sangat susah untuk untuk membersihkan kawasan pantai sebesar ini dengan pekerja yang sangat terbatas, tapi tetap saya kerjakan dengan ikhlas dan saya mengusahakan kebersihan panta tetap diaga, ujarnya.

                  Pantai ini sejak ramai dikunjungi banyak pengunjung pada tahun 1980an, tetapi sejak saat itulah banyak pedagang PKL yang berjualan juga di kawasan pantai, itu sangat mengganggu keindahan pantai. Sebenarnya pihak dari Dinas Pariwisata sudah memberikan tempat tersendiri untuk PKL yang ingin berjualan, tetapi PKL tetap saja kekeh dengan berjualan di tempat yang tidak semestinya untuk berdagang. Itu membuat kawasan yang tadinya bersih menjadi sedikit kotor walaupun pantai menjadi kotor bukan sepenuhnya dari pedagang PKL tersebut. Semoga kesadaran masyarakat dan PKL itu datang secepatnya supaya tetap menjaga pantai tetap bersih.

Pantai indah namun sedikit membahayakan.

Ridwan, 35 th(Petugas tim SAR

                   Pantai parangtritis adalah pantai yang diakui keindahannya yang luar biasa. Pantai ini sudah lama  dikagumi oleh Ridwan, seorang lelaki yang berusia 35 tahun. Pak Ridwan bekerja disini sebagai tim SAR juga membawa nilai positif yaitu dapat menikmati keindahan pantai ini setiap hari. Selama bekerja disini pak Ridwan melihat pantai ini indah namun sedikit membahayaka karena ada waktunya ombak disini pasang, dan pernah juga pantai ini menela korban. Pak Ridwan sangat menyesal kejadian itu bisa terjadi. Jika berbicara mengenai keamanan di pantai ini lelaki berumur 35 tahun ini mengatakan aman karena pantai ini sudah memiliki batas keamanan dan batas dimana masyarakat tidak boleh melebihi batas keamanan ketika berada di pantai ini.

                     Selama pengunjung tidak melanggar peraturan di kawasan pantai, Tim kami tidak perlu was-was terhadap pengunjung. Tetapi jika ada yang berenang di pantai, kita selalu mendampingi dari jauh apabila pengunjung tersebut sudah mulai berenang di pantai.

 Banyak pengunjung, banyak pendapatan.

 Sarimin, 47 th (Pekerja Delman)    

                   Bapak Sarimin yang bekerja sebagai Saya kusir delman ini kira-kira sudah 3 tahun bekerja. Pantai ini diakui memang indah sekali pemandangannya. Setiap ada hari-hari besar atau hari libur pengunjung pantai ini sangat ramai, itu sangat menguntungkan baginya, ya walaupun hasilnya tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk makan anak-anak dan istri. Ketika ditanya mengenai penghasilan atau harga yang ditawarkan kepada pengunjung ia memberi harga untuk ini sekitar 15ribu sampai 20 ribu, tetapi tergantung penawaran juga dengan pelanggan.

                     Mengenai kebersihan pantai ini sangat saya sayangkan karena makin lama kebersihan pantai ini sudah tidak terjaga. Banyak sekali sampah yang ada di pantai ini. Saya hanya berharap supaya pantai ini tetap akan bersih supaya pengunjung senang dengan pantai ini dan juga akan bertambah pengunjungnya, kalau begitu kan juga saya mendapat untung, ujar pak Sarimin.

Promosi Luar Negeri.

 Gilang, 24 th ( pengunjung pantai parangtritis / wisatawan )

                 Saya asli penduduk Jogja, tetapi saya tidak akan bosan dengan Pantai Parangtritis ini. Pantai ini sangat memberi banyak kenangan bagi saya. Sejak kecil saya sering sekali diajak ke pantai ini bersama orang tua dan keluarga saya. Menurut saya pantai ini begitu indah walaupun banyak juga pantai lain di Jogja yang tidak kalah menarik, tapi lihat saja, bagi penduduk luar Jogja jika ingin berkunjung ke Jogja pasti tidak akan melewatkan pantai indah ini.

                   Parangtritis ini sebaiknya tetap dijaga keindahannya supaya makin banyak pengunjung yang ating kemari. Dan seharusnya pantai ini sering dijadikan ajang promosi sampai ke Luar Negeri kalau perlu supaya tourist asing juga berkunjung kemari. Tetapi sangat disayangkan, pantai ini mulai dikunjungi oleh pengemis, mungkin saya dan pengunjung lain merasa sedikit terganggu dengan hal itu karena mungkin kita ingin menikmati keindahan pantai ini tetapi justru melihat pemandangan yang tidak menyenangkan.

3 kali diusir Satpol PP.

Sri 40 th ( Pedagang Kaki Lima )

                       Seorang wanita yang berumur 40 tahun ini sudah bekerja selama 3 tahun di pantai ini, untuk bertahan hidup, ungkapnya. Wanita ini mengatakan memilih tempat pantai ini karena  tahu pengunjung di sini sangat ramai. Ia mengaku pernah di grebek oleh Satpol PP karena katanya tidak boleh berjualan disini, mengganggu pengunjung pantai ini. Tapi menurutnya tidak mengganggu karena setiap pengunjung yang ingin membeli jajanan disini kan tidak harus jauh-jauh jalan ke depan lagi untuk membeli sesuatu. Walaupun sudah lebih dari 3 kali saya disini digrebek tetapi tetap saja saya kembali ke kawasan pantai ini untuk berdagang, ungkapnya.

                        Keuntungan atau kesenangan lain yang saya dapat jika berjualan disini adalah saya dapat keuntungan dari berjualan disini dan senang juga melihat pantai ini. Pengunjung disini juga banyak yang ramah-ramah tetapi juga ada yang emosional ataupun cuek. Baru didatangi sudah menolak.

Penulis                : Lestrya Ramadhani

Pewawancara : Lestrya Ramadhani / Metta Widyaningrum / Kharisma Ayu Febriana / Wahyu Dwi Septiningrum / Ikhsan Hikmawan

 Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

           





IN DEPTH NEWS ON LINE

24 11 2009

OUTLINE LIPUTAN

Tema
“ Pantai Parangtritis dan Kebersihan”

Latar Belakang
              Parangtritis adalah sebuah tempat pariwisata berupa pantai pesisir Samudra Hindia yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kotaYogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup Krakal dan Pantai Glagah.

               Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung – gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas parangtritis.

              Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. lokasi lain adalah pantai parang kusumo dimana di pantai tersebut terdapat tempat konon untuk pertemuan antara raja jogjakarta dengan ratu laut selatan. Pada hari-hari tertentu (biasa bulan suro) di sini dilakukan persembahan sesajian (Labuhan) bagi Ratu Laut Selatan atau dalam bahasa Jawa disebut Nyai Rara Kidul. Penduduk setempat percaya bahwa seseorang dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau muda jika berada di pantai ini. Pantai Parangtritis menjadi tempat kunjungan utama wisatawan terutama pada malam tahun baru Jawa (1 muharram/Suro). Di Parangtritis ada juga kereta kuda atau kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat.
                  Dalam masalah kebersihan, dipantai parangtritis terlihat kurang diperhatikan. Ini semua disebabkan karena kurangnya kesadaran tentang kebersihan, baik dikalangan masyarakat sekitar, pedagang, dan pengunjung. Selain itu, kurangnya kepedulian dari dinas pariwisata. Ini terlihat dari sedikitnya petugas kebersihan yang dikerahkan untuk membersihkan lingkungan sekitar panta.                                                                

                     Hanya 33 pertugas kebersihan yang dikerahkan, sehingga kerja mereka kurang maksimal dalam membersihkan kawasan pantai yang seluas itu. Masyarakat sekitar dan pedagang juga kurang memperhatikan kebersihan, ini tampak dari masyarakat tidak mau membuang sampah pada tempatnya. Sehingga terlihat sampah yang berserakan disekitar pantai.

Objek Observasi
1. Pantai Parangtritis
2. Pantai Depok
3. Pantai Kukup
4. Pantai Sundak

Nara Sumber
1. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul
2. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul
3. Staf Kebersihan Pantai
4. Pedagang Kaki Lima (PKL)
5. Pengunjung
6. Tim SAR

Pembagian Kerja
Pengamat Pantai dan Pewawancara Nara Sumber di wilayah Bantul: Kharisma, Lestrya, Ikhsan
Pengamat Pantai dan Pewawancara Nara Sumber di wilayah Gunung Kidul: Metta, Wahyu, Anis








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.