DI BALIK KEHIDUPAN PENGEMIS MALIOBORO

12 01 2010

DI  BALIK  KEHIDUPAN

  PENGEMIS  MALIOBORO

Berita Utama

Keindahan kota Jogja, khususnya di daerah Malioboro sebagai jantuk perekonomian kota Jogja yang di bilang sangat maju dengan pertumbuhan yang sangat pesat. Namun apabila kita amati, tak sedikit para pengemis duduk di depan emperan toko atau bahkan di tepi trotoar untuk meminta-minta, sungguh ironi, Kenapa mereka meminta-minta ? Bagaimanakan kehidupan pengemis sebenarnya ?      

         “Kami ingin bebas! Kami ingin bebas dari ketidakadilan, kemiskinan, lapar dan rasa takut! Kami ingin bebas dari perlakuan sewenang-wenang! Kami berharap untuk bisa berbahagia!”,tutur pria yang sering di sapa Slamet. Seorang pengemis yang sering mangkal di kawasan maliobori ini mejelaskan bahwa, kebebasan kami hanya dapat diperoleh bila orang di sekitar kami merasa bebas.

          Kami hanya dapat merasa bahagia apabila orang disekitar kami pun merasa bahagia. Kami hanya bisa nyaman, apabila orang-orang yang kami temui dan kami lihat di dunia ini merasa nyaman. Dan kami hanya dapat makan dengan nyaman apabila orang lain juga dapat merasa nyaman dengan makan seperti kami. Dan untuk alasan tersebut, dari diri kami sendiri, kami memberontak menantang setiap bahaya yang mengancam kebahagiaan dan kebebasan kami”, tegasnya .

            Pria yang hampir separuh baya ini menjelaskan bahwa, Ketika ada razia, bukannya di rehabilitasi dengan baik untuk mendapat perlindungan, Namun yang diberikan pada kawan-kawan pengemis  adalah Sat Pol PP sering melakukan tindakan razia dengan kekerasan, terutama di wilayah Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Sampai saat ini”, tuturnya

        “Berdasarkan info yang saya tahu dari kawan-kawan pengemis, ada  kawan-kawan pengemis yang dirazia oleh Sat Pol PP Sleman dan Jogja, dimana  mereka  mengaku mengalami kekerasan fisik (dipukuli), digabur (dilepas sembarang tempat) di daerah Besi dan Kalasan, dan bahkan ada yang uang hasil meminta-mintanya di ambil oleh petugas sat pol PP.

            Di tempat terpisah, Salah seorang pengakuan  pengemis, Sumiyati ( 69 tahun ), di usianya yang telah senja, ia menjelaskan bahwa sebuah keterpaksaan ketika dirinya menjadi pengemis, karena dirinya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang pengemis. Fisiknya yang sudah rentang, mengharuskan dia menjadi seorang pengemis.

      Tiap harinya Sumiyati, tidur di pasar Bregharjo, bersama buruh gendong, dan juga pengemis yang lain. Nenek yang mengemis sejak 5 tahun yang lalu, mengaku bahwa sehari rata-rata dirinya hanya mendapat 6 ribu – 8 ribu, dan untuk makan sehari-hari, dirinya hanya membeli nasi bungkusan seribuan.

       Sumiyati, “Saya ingin pemerintah adil dalam menangani masalah pengemis seperti saya, yang saya tahu, bahwa  tiap warga negara berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, namum pada kenyataannya saya sama sekali tidak medapat keadilan, saya merasa sekarang hidup tidak adil, karena yang kaya semakin kaya, dan yang miskin seperti saya semakin terpinggirkan”

      Nenek asli Surabaya ini mengaku, bahwa dirinya Pernah sekali di razia, namun dirinya sangat tidak betah tinggal di  tempat rehabilitas, karena terlalu banyak aturan, sedangkan saya ini sudah tua, saya ingin hidup tenang dan lebih senang seperti sekaran ini”, tuturnya dengan pasrah.

        Di tempat terpisah, Slamet kembali menjelaskan bahwa, Pemerintah juga mengalami kegagalan dengan berbagai proyek-proyek yang seringkali atas nama rehabilitasi, Sebagai contoh, pengalaman kawan-kawan saya yang sering terkena razia kemudian dibawa ke panti sosial, bahkan mereka selau mengalami kekerasan fisik dan psikis, mereka di panti sosial tidak ada pemberdayaan sama sekali, bahkan mengalami nasib yang sangat menyedihkan dan diperlakukan sewenang-wenang, seperti saat di panti sosial kawan-kawan dicampur dengan orang-orang yang mengalami permasalahan dengan kegilaan.

      Kalaupun ada rehabilitasi berupa pemberdayaan, hal ini banyak sisi kelemahannya karena kawan-kawan setelah program pemberdayaan selesai maka urusan dinas sosial pun selesai, mereka tetap dibiarkan dan tersingkir dari arena kompetisi kerja. Indikator kegagalan program rehabilitasi yang lain bisa terlihat dari pengemis jalanan yang sudah berkali-kali terkena razia, berkali-kali masuk panti sosial namun mereka tetap kembali mencari rezeki di jalanan, bahkan jumlah penduduk yang mengalami kemiskinan  dan memilih mengais rezeki dari jalanan semakin besar. Artinya, ini ada fakta-fakta yang seharusnya bisa membuka mata para pejabat  dan bisa berkoreksi !, tegasnya.

       Namun di sisi lain, ketika  masyarakat Jogja bicara soal pengemis, banyak yang mengalami Pro dan Kontra atas keberadaan pengemis di kawasan Malioboro. Sebut saja Bram, mahasiswa UMY ini menggagap bahwa, Saya merasa tidak begitu terganggu dengan adanya pengemis di sekitar malioboro, karena saya merasa bahwa mereka juga manusia, dan saya yakin bahwa mereka mengemis karena mereka tidak punya pilihan lain. Mahasiswa yang akan  merampungkan skipsinya ini kembali menegaskan bahwa,

       Seharusnya mereka di rehabilisasikan, di beri ketrampilan, dan lebih baik lagi apabila mereka di beri pinjaman modal untuk buka usaha kecil-kecilan sesuai dengan bakat mereka masing-masing, tegas Bram (24) Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

      Pendapat lain, di tuturkan oleh Tutut (14) siswi SMP 1 Bangun Papan, Jogja,  “Sangat Terganggu!”, adalah jawaban pertama ketika di tanya soal keberadaan pengemis di sekitar kawasan Malioboro. Saya di satu sisi kadang juga kasihan, namun disisi lain saya sangat terganggu dengan keberadaan pengemis di kawasan Malioboro, karena bagi saya malioboro merukapan salah satu icon objek wisata kota Jogja, yang harus di jaga kebersihannya!, tegasnya dengan wajah polos. “Menutut saya, pemerintah DIY harus lebih tegas dalam menangani masalah pengemis, karena bagaimanapun juga, ini sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan pengunjung, tegasnya.

      Sekilas kehidupan pengemis dan juga tanggapan dari masyarakat Jogja di atas. Akankah Pemerintah DIY akan tinggal diam dalam menangani masalah ini? Kita tunggu saja !!

Profil Pengemis

KETIKA  PENGEMIS  BERBICARA

 

Berita pendukung

            Tua dan Rentang, adalah kesan pertama  ketika melihat sosok nenek tua, di pojok trotoar Malioboro, Dengan wajah kusamnya, nenek tua itu duduk sambil menunggu orang yang lalu-lalang, dan berharap memberinya uang. Sungguhkan ia seorang pengemis atau perampok bertopeng pengemis ?, bagaimana ketika pengemis itu bicara ?

 

             Sumiyati ( 69 tahun ), di usianya yang telah senja, ia menjelaskan bahwa sebuah keterpaksaan ketika dirinya menjadi pengemis, karena dirinya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang pengemis. Fisiknya yang sudah rentang, mengharuskan dia menjadi seorang pengemis.

        Nenek asli Surabaya ini, mengaku bahwa dirinya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, suaminya yang telah meninggal sejak tahun 2005 lalu, dan dirinya juga tidak memiliki anak, bahkan sodara laki-laki satu-satunya pun telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

           Tiap harinya Sumiyati, tidur di pasar bregharjo, bersama buruh gendong, dan juga pengemis yang lain. Nenek yang mengemis sejak 5 tahun yang lalu, mengaku bahwa sehari rata-rata dirinya hanya mendapat 6 ribu – 8 ribu, dan untuk makan sehari-hari, dirinya hanya membeli nasi bungkusan seribuan. Dirinya bersyukur, tidak sakit-sakitan, walaupun dia harus kedinginan dan tidak memiliki apa-apa, namum dia berusaha menjaga dirinya yang ringkih dengan sabuah selendang pemberian orang pada saat hari raya idul fitri tahun lalu.

          Nenek yang  tiap harinya  muali mangkal di tepi trotoar Malioboro ini mengaku bahwa ia mulai mengemis dari jam 3 sore hingga 10 malam, namum bila hari jumat, ia mulai mengemis dari jam 10 pagi hingga 5 sore.

          Pernah sekali di razia, namun dirinya mengaku sangat tidak betah tinggal di  tempat rehabilitas, karena terlalu banyak aturan, sedangkan saya ini sudah tua, saya ingin hidup tenang dan lebih senang seperti sekaran ini”, tuturnya dengan pasrah.

          Sumiyati, “saya ingin pemerintah adil dalam menangani masalah pengemis seperti saya, yang saya tahu, bahwa  tiap warga negara berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, namum pada kenyataannya saya sama sekali tidak medapat keadilan, saya merasa sekarang hidup tidak adil, karena yang kaya semakin kaya, dan yang miskin seperti saya semakin terpinggirkan”, katanya dengan berlinangkan air mata.

         “Bila melihat teman-teman yang lain, seperti buruh gendong di pasar Brengharjo, saya juga merasa ingin seperti mereka, namun tubuh saya yang rentang tak mungkin lagi mampu mengangkat beban berat seperti mereka, terangnya.

         Saya juga merasa kasihan dengan teman-teman pengemis yang senasip dengan saya, Jadi saya berharap, jangan ada lagi pengemis seperti saya, karena saya tidak ingin ada orang lain yang merasakan penderitaan seperti saya sekarang ini . Tegasnya dengan rauk muka penuh kesenduan.

KATA ORANG JOGJA,

 TENTANG PENGEMIS  DI  MALIOBORO

Berita pendukung

Bramantya ( 24 tahun ) Mahasiswa UMY Advertaising,

Saya merasa tidak begitu terganggu dengan adanya pengemis di sekitar malioboro, karena saya merasa bahwa mereka juga manusia, dan saya yakin bahwa mereka mengemis karena mereka tidak punya pilihan lain, tutur mahasiswa yang kini tengah merampungkan skipsinya.

Pemerintah kurang memperhatikan nasip pengemis di sekitar malioboro, mungkin karena pemerintah terlalu sibuk memikirkan PKL, sehingga nasip pengemis menjadi terabaikan. “Saya sangat mempertanyakan tanggung jawab pemerintah DIY ?” katanya dengan tegas.

Seharusnya mereka di rehabilisasikan, di beri ketrampilan, dan lebih baik lagi apabila mereka di beri pinjaman modal untuk buka usaha kecil-kecilan sesuai dengan bakat mereka masing-masing, tegas Bram (24) Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.

Tutut ( 14 tahun ) Siswa SMP 1 Bangun Papan, Jogjakarta

            “Sangat Terganggu!”, adalah jawaban pertama ketika di tanya soal keberadaan pengemis di sekitar kawasan malioboro. Saya di satu sisi kadang juga kasihan, namun disisi lain saya sangat terganggu dengan keberadaan pengemis di kawasan malioboro, karena bagi saya malioboro merukapan salah satu icon objek wisata kota Jogja, yang harus di jaga kebersihannya, baik secara fisik, maupun non fisik, yaitu dengan keberadaan pengemis akan merusak keasrian pemandangan di malioboro.

            Gadis manis asli Jogja ini juga menambahkan, “Saya baru duduk sekitar 5 menit di sini saja, tadi sudah ada 2 pengemis yang meminta-minta uang, yah, bila ada ya saya beri uang, namun bila tak ada uang receh, ya saya tidak beri”, jawabnya dengan santai.

            Menutut saya, pemerintah DIY harus lebih tegas dalam menangani masalah pengemis, karena bagaimanapun juga, ini sangat mengganggu ketenangan dan kenyamanan pengunjung, tegasnya.

Marlina ( 36 tahun ), Ibu Rumah Tangga

            Keberadaan pengemis di kawasan malioboro, sangat saya sayangkan, karena ini juga dapat merusak keindahan tata kota, yang seharusnya rapi, namun karena adanya pengemis sehingga menjadi terlihat kumuh dan yang jelas juga dapat mengganggu pengunjung yang ingin santai di taman malioboro.

            Ibu dua anak, asli Condong catur ini mengaku, bahwa kalau sore dirinya dan salah seorang anaknya senang duduk santai di taman malioboro, depan benteng. Namun dengan adanya keberadaan pengemis, menjadikan dirinya harus selalu sedia uang reseh untuk memberi pengemis yang sering meminta-minta.

            Dari dulu hingga sekarang, pengemis tidak pernah habis, namun jumlahnya terus bertambah, saya merasa bahwa pemerintah DIY telah merehabilisasi mereka, namun mungkin mereka lebih senang meminta-minta dari pada harus bekerja, saya sunggung menyayangkan hal ini. Tutur Marlina, dengan muka kesahnya.

By       : KHARISMA    AYU    FEBRIANA

NIM    : 153 070 115





Pak joko, mengharapkan uang receh di keramaian malioboro

11 01 2010

 

(berita pendukung)

Pak joko, mengharapkan uang receh di keramaian malioboro Malioboro

 

              Memang sangat indah di siang hari dan mewah pada saat malam datang ,berbagai aktifitas hampir bercampur menjadi satu di jalan jantungnya kota yogyakatra ini, tetapi dibalik itu ada sedikit harapan untuk soerang pengemis yang mempunyai senyuman yang menbuat malioboro terasa lebih indah. Joko 65 tahun, laki-laki separuh baya ini duduk menyendiri di salah satu pojokan di maloiboro, bapak asli Surabaya ini sehari-hari mengemis di sekitar malioboro untuk menyambung hidupnya yang sebatang kara ini, siang dan malam bapak yang khas memekai topi ini sahat mengharapkan belaskasihan kepada orang-orang yang ada di sekitar malioboro, dengan dibantu bekas cangkang air minum meneral dia berkeliling malioboro untuk mengais untuk kehidupan sehari-hari. Di tengah terik matahari yang panas bapak dengan logat jawa ini tidak pernah ada rasa putus asa untuk mendapatkan sekeping receh di malioboro.Bapak yang selalu membawa kantong berwana hita yang berisi pakaian itu dalam sehari bisa mendapatkan uang 30 ribu yang sudah cukup untuk makan dia sehari. Ia memilih malioboro sebagai tempat bekerjanya karena dianggap paling strategis di yogyakarta “saya sengaja datang dari kota Surabaya hanya untuk menikmati dan mengharapkan uang receh di malioboro, bagi saya uang receh lebih berharga dibandingkan uang 100 ribu karena uang receh tidak mungkin bisa dipalsukan.” ucapnya sambil meminum segelas es teh. Siapa yang menyangka bapak 5 cucu itu pandai berbahasa inggris, dia bisa berbahasa inggris karena pada waktu jaman dulu sudah terbiasa bergaul denagn para turis yang berwisata ke kota pahlawan itu, bapak ini juga salah satu saksi hidup pejangan arek-arek soroboyo yamg berhasil mengusir belanda dari Indonesia.”pada saya berusia 19 tahun saya sdah terbiasa memedang senjata untuk berjaga-jaga bilamana ada serangan mendadak dari belanda”. Ujarnya sambil sedikit berbahasa inggris itu. Pada tahun 1989 pak joko sudah merasakan berada di balik jeruji besi penjara, pada ewakri itu dia difnah melakukan pembunuhan yang akhirnya menyerednya ke penjara selama 5 tahun. Tidak jarang juga satpol PP menertibkan para gelandangandan pengemis, tetapi itu tadak menbuat kapok pak Joko untuk kembali lagi ke malioboro untuk mencari nafkah.” Bagi saya malioboro adalah surganya dunia, disinalah saya makan, tidur, mencari uang dan mencari rezki”. Pak joko adalah salah satu dari banyak orang yang mencari nafkah di keramaian malioboro. Di Surabaya bapak yang basa disapa jobay ini memiliki 2 orang anak yang sekarang hidupnya sudak mapan-mapan, tetapi dia tidak mengharapakan kekeayaan anaknya itu karena dia merasa malu karena dia mantan narapidana yang mungkian akan menjadi aib bagi keluarganya sendiri, kemudian dia meninggalkan tanah kelahirannya dan hijrah ke kota gudeg untuk bertahan hidup.

Penulis: Ikhsan Hikmawan (153070334)

( berita Utama)

Indonesia, kaya akan SDA tapi miskin akan SDM

Negara Indonesia kaya akan sumberdaya alam, pulau-pulau terhampar luas mengelilingi bumi pertiwi ini, Negara yang dibatasi oleh dua benua dan dua samudra ini memiliki kenekaragaman kehidupan, namun dibalik itu Indonesia juga menyimpan sejuta misreri yang tak terpecahkan juga.

Dibalik keindahan indinesia ini sering terjadi berbagai fonomena alam yang silih berganti yang melanda bumi pertiwi ini, mulai dari bencana tsunami, banjir, longsor, gempa bumi dan kebakaran. Entah kenapa bencana itu sering melanda Negara yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani ini. Dengan kejadian itu banyak orang yang kehilangan harta benda serta tempat tinggal, yang akhirnya akan melahirkan kemiskinan dan pengangguran.

Gambar disanping menggambarkan salah satu potret krisis kemiskinan yang melanda ibu pertiwi ini. Mereka kahilangan tempat tinggal dan pergi ke kota untuk mencari makan dan bertahan hidup. Seharusnya mereka hidup bahagia bersama keluarganya dan menggapai mimpinya. Dan masih banyak saudara-saudara kita yang hidup pada garis kemiskinan, ditambah mealmbungnya kebutuhan pokok yang semakin memberatkan mereka.

Menjadi pengemis adalah salah satu cara mereka untuk bisa bertahan hidup ditengah kota yang keras ini. Meraka menagis rupiah untuk mendapatkankan sesuap nasi, tidak peduli dibawah terik matahari atau pun diguyur hujan deras meraka tampak tidak putus asa untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Di keramaian kota mereka bersaing sesama pengemis. tidak jarang juga mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib dan membawanya ke tempat yang lebih layak untuk mereka, tetapi itu tidak membuat kapok untuk kembali lagi kejalanan, “hidup dijalan lebih mengasikan daripada harus hidup dipanti asuhan” ujar salah satu pengemis yang masih remaja ini.

Anak-anak ini seharusnya duduk dibangku sekolah untuk mencari ilmu sesuai cita-cita mereka, bukannya ada dijalanan untuk mencari uang. Orang tua yang seharusnya membingbing mereka untuk menjadikan anaknya menjadi orang pandai bukannya malah menelantarkannya begitu saja.Jalanan yang kejam dan penuh bahaya ini terpaksa mereka pilih untuk tempat berteduh.

Pemerintah seharusnya harus memerhatikan mereka dengan serius, mereka tidak ingin Negara tercinta ini harus dikotori pemandangan seperti pengemis dan gelandangan. Dengan membuka lapangan pekerjaan bagi mereka, dan membimbing mereka untuk hidup lebih kreatif dan mandiri. Sekarang diperparah dengan ditemukannya kasus kekerasan bahkan pembunuhan yang kerap terjadi pada pengemis dan gelandangan. Lebih sadis lagi ada beberapa pengemis yang meninggal karena kelaparan.

 penulis : ikhsan Hikmawan (153070334)





11 01 2010

IN DEPTH NEWS (UAS)

PLUS MINUS KOST-KOSTAN JOGJA

_TULISAN UTAMA_

Siapa yang tak kenal kota Yogyakarta? Kota yang sering disebut dengan sebutan kota pendidikan memang bukan hanya di Yogyakarta saja. Beberapa kota yang lain juga mempunyai sebutan sebagai kota pendidikan. Akan tetapi sampai saat ini Yogyakarta tetap menjadi tujuan utama para pencari ilmu dari seluruh pelosok negeri. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendukung Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Hal ini yang membuat kota ini penuh dengan kost-kostan. Tidak heran apabila keberadaan kost membawa banyak sekali hal positif maupun negatif. Lalu apa saja hal positif dan negatif tersebut?

Secara fungsional ada dua hal yang mungkin ada dalam kost-kostan. Pertama, sebagai tempat tinggal bagi para pelajar dan mahasiswa dalam menuntut ilmu, kamar kost adalah tempat lahirnya produk-produk pemikiran besar, ladang melakukan inspirasi dan perenungan.

Kost-kostan adalah wadah/tempat tinggal sementara bagi orang yang merantau ataupun mahasiswa/i untuk lebih strategis dalam mencapai kampus karena rumah yang sangat jauh ataupun untuk mengirit ongkos. Namun sekarang ini kost – kostan bukan lagi berfungsi menjadi tempat tinggal sementara melainkan tempat maksiat/mesum dan tempat pemakaian narkoba. Biasanya orang yang memakai jasa kost-kostan adalah orang yang tidak mempunyai sanak keluarga untuk menumpang bertempat tinggal di jakarta, begitu juga dengan para mahasiswa/i yang mengekost karena alasan jauh dari kampus mereka sehingga mereka bebas tanpa pengawasan orang tua.

Selain itu tempat kost sekarang ini tak lagi seperti dahulu yang masih diawasi oleh ibu kost dan mempunyai banyak peraturan yang semuanya selalu terkontrol, sehingga para anak kost sekarang bebas untuk membawa siapa saja kedalam kamar kost, baik pria maupun wanita. Hal ini membuat para anak kost tidak takut melakukan hal yang tidak sewajarnya seperti melakukan hubungan seksual diluar nikah.

Bagi Ibu Sri Lestari, pengurus kost-kostan yang terletak di jalan dirgantara daerah Babarsari mengaku senang dengan adanya kost-kostan yang ada disitu karena dengan adanya kost-kostan dianggap dapat membantu persatuan berbagai budaya yang ada di Indonesia. Di kost-kostan ini, penghuni sebagian besar adalah mahasiswa luar jawa, sebagian lain adalah pulau jawa. Hal ini dapat membantu memperkenalkan lebih mudah bagaimana budaya kita terhadap budaya lain.

Kost-kostan yang telah berdiri sekitar 19 tahun yang lalu ini sekarang memiliki 30 kamar yang masing-masing kamarnya diisi oleh 1 orang penghuni kost, ujar wanita 35 tahun ini. Selama ini belum pernah ada masalah yang begitu berarti dalam kost-kostan tersebut, dan wanita yang biasa dipanggil “Mak e” ini juga berharap tidak akan ada masalah dalam kost-kostan ini.

Istilah universitas kost-kostan dan pondokan memang layak untuk disosialisasikan, karena aktifitas sehari-hari kaum terpelajar sebenarnya hanya ¼ (5 jam)saja untuk belajar di yayasan atau perguruan tinggi dan ¾ (11 jam) nya adalah lingkungan, teman, dan masyarakat yang mendidiknya. Dan mampu membentuk karakter diri seseorang, dari yang sholeh menjadi begundal, sholihah menjadi binal, teladan menjadi edan, taat menjadi murtadz atau sebaliknya.

Yang semua itu tidak lepas dari pengaruh teman, lingkungan dan masyarakat. Mahasiswa. Disamping ke perpustakaan, museum, mall, bioskop, tempat-tempat wisata, koleksi pacar dan sebagainya. Yang semua itu tidak bisa lepas dari penyebaran virus pekat (penyakit masyarakat) yang bisa ditularkan lewat universitas kost-kostan dan pondokan dengan sangat cepat.

Penyakit masyarakat atau virus yang wajib di jauhi dalam universitas kost-kostan dan pondokan adalah SARS (seks antar rekan sekost), free sex, kumpul kebo, pencurian dan narkoba, yang semua itu bisa ditularkan dengan sangat mudah baik lewat pergaulan bebas, sekedar mencoba atau bisa juga karena terpaksa.

Kost-kostan yang tidak sehat juga dapat melahirkan penyakit hati, egois, cemburu, suka memfitnah, mengumpat dan sebagainya. Yang kemudian akan berimbas pada penyakit fisik seperti: junkis (narkobais), hamil sebelum nikah, suka begadang, sehingga kesehatan fisik sudah tidak seimbang lagi. Jika sudah demikian maka malas-malasanlah yang akan bertindak, kuliah malas, belajar malas, makan pun malas, bahkan droup out dari kuliah menjadi mungkin terjadi.

Gambaran di atas tentu sangat memprihatinkan, karena itu, ada beberapa hal yang kiranya perlu diperhatikan dalam mencari dan menentukan kost-kostan. Dalam hal ini sang penulis memetakan menjadi lima unsur dalam kost-kostan yang ideal, yaitu: visi teologis, visi kerakyatan, visi ekonomi, faktor fisik bangunan dan lain-lain.

Waspadai Pencurian di Lingkungan Kost

_Tulisan Pendukung_

Apalah arti sebuah kebebasan apabila tidak aman dalam menyimpan hal-hal yang penting buat kita? Jika kita telusuri, kost-kostan memang rentan dalam hal pencurian. Namun kita bisa selau waspada terhadap hal-hal yang terjadi dalam lingkungan kita.

Setiap hari dalam kost-kostan begitu banyak kegiatan yang dilakukan oleh penghuni kost untuk mengisi hari-harinya di dalam tempat yang bukan tempat tinggal asli meraka. Hidup dalam kemandirian memang tidak mudah tetapi hal itu dapat memberi pelatihan kepada mereka yang hidup dalam kost-kostan.

Tidak bisa dipungkiri jika orang memilih kost berarti mereka juga harus menerima hal yang banyak sekali resikonya. Resiko yang ada sangatlah merugikan, contohnya saja kecurian. Sekarang ini pecurian barang dikost banyak sekali terjadi. Bukan hanya orang luar saja yang mencuri namun juga terkadang teman sendiri. Dalam hal ini, kita harus berhati-hati dan waspada apabila kita meninggalkan kamar kost.

Disini Ibu Lestari memberikan tips kepada orang yang tinggal dikost, pertama : kita wajib memberi gembok atau pengaman lagi pada pintu yang ada di kost, kedua : jika kita ingin kekamar kecil atau main ke kamar teman kost kita harap pintu kamar kita selalu dikunci, ketiga : jangan membiarkan orang asing masuk kekamar kita, keempat : kita harus mempunyai teman dekat di tempat kita kost jadi apabila kita pergi dalam waktu yang lama kita bisa mempercayakan kamar kita kepada orang yang kita percaya.

Tetapi tidak hanya pencurian yang perlu kita waspadai dalam kost. Kita harus pintar-pintar memilih teman yang akan mengisi hari-hari kita. Teman yang baik tentunya tidak akan menjerumuskan kita ke dalam pergaulan yang salah. Dijaman yang bebas ini banyak sekali yang memanfaatkan kost sebagai tempat untuk bermaksiat termasuk memakai narkoba dan minum-minuman keras.

Ketika dipertanyakan mereka lebih merasa aman memakai fasilitas kost-kostan dibandingkan rumah sendiri / ditempat-tempat umum. Satu hal lagi yang menjadi alasan kuat, biasanya mereka kost-kostan tidak lebih dari 1 bulan karena mereka akan berpindah kekost-kostan lainnya lagi agar mereka lebih aman. Agar tidak tercium oleh pihak yang berwajib.

Begitu juga dengan para mahasiswa-mahasiswa/i yang mengekost sekaligus menjadi tempat memakai narkoba, dan biasanya dia tidak hanya sendiri melainkan beramai-ramai dengan temannya. Bukan sebagai pengedar ataupun bandar melainkan mencari kesenangan semata. Dan biasanya kost-kostan seperti ini pemiliknya ialah orang kuat yang mempunyai jabatan tinggi, dimana jarang polisi bisa merazianya.

Kost-kostan biasanya dapat dirazia oleh aparat atau Rt / Rw setempat. Mungkin inilah yang menjadi nama awal kostan plus yang dimana dimata orang lain selalu negatif. Bila ditinjau Kost-kostan bebas ini banyak diminati oleh warga yang merantau maupun mahasiswa karena harga perbulannya yang sangat murah dan bebas untuk ditempati yaitu tidak adanya peraturan-peraturan meskipun dengan fasilitas seadanya.

NAMA      : LESTRYA RAMADHANI

NIM           : 153070106 / A





IN DEPTH NEWS (UAS)

11 01 2010

Hedonisme vs Wirausaha

-tulisan utama-

Shopping di mall, nongkrong di cafe, dan nonton film di bioskop, itulah kegiatan mahasiswa yang dapat kita saksikan dalam mengisi waktu luangnya. Suatu potret budaya hedonisme yang kian merebak di kalangan generasi muda di Indonesia saat ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terpaan berbagai media di era globalisasi ini telah merubah masyarakat Indonesia menjadi lebih bersifat konsumtif. Ditambah dengan segala kemudahan yang ada, masyarakat terlena dengan segala sesuatu yang serba instan. Sejak kecil mereka telah terbiasa memperoleh apapun yang mereka butuhkan dan mereka inginkan hanya dengan satu jentikan jari. “Kalo ada yang gampang, ngapain cari yang susah”, ucap Devi manakala ditanya mengenai kebiasaannya menghamburkan uang orang tuanya untuk memenuhi kebiasaannya berbelanja make up, pakaian dan segala pernak-perniknya yang sesungguhnya belum terlalu dia perlukan. Terlahir dari keluarga yang serba ada memang membuat perempuan yang hingga kini belum juga menyelesaikan kuliahnya sejak lima tahun itu, bersifat konsumtif. Hal serupa terjadi pada Ajeng. Meskipun dibesarkan oleh orang tua yang bercerai, tidak lantas membuatnya lebih bijak dalam menentukan perilakunya. Justru budaya boros sudah kuat tertanam pada dirinya sejak ia masih kecil. “Aku sering kok blanja-blanja sama mama”, bangganya seraya menunjukkan koleksi pakaiannya yang tidak bisa dibilang sedikit itu.

Budaya-budaya hedonisme inilah yang menuntun masyarakat Indonesia, termasuk di antaranya adalah mahasiswa, tidak mampu hidup mandiri. Terlihat dari paradigma kebanyakan mahasiswa yang berpikir untuk ‘bekerja kepada orang lain’. Setelah lulus, mereka sibuk melamar bekerja di mana, bukan berpikir untuk membuka usaha sendiri. Padahal saat ini, menjadi sarjana bukanlah jaminan untuk mudah memperoleh pekerjaan. Perusahaan semakin selektif dalam memilih karyawan. Tingkat persaingan menjadi semakin ketat. Hal ini menjadikan mereka yang tidak mampu mengikuti arus persaingan justru akan tersisih dan menambah angka pengangguran.

Bekerja kepada orang lain bukan merupakan suatu hal yang salah. Karena pada dasarnya kesempatan dan keberuntungan seseorang memang sangat menentukan nasib masa depannya. Namun, bukan hal yang salah pula mencoba membuat usaha sendiri. Istilah yang umum dipakai adalah wirausaha. Tidak sedikit orang yang sukses secara finansial melalui usaha yang dikembangkannya sendiri.

Esti Wijaya, mahasiswa di Unika Atmajaya ini adalah contohnya. Meskipun bukan seorang muslim, namun perempuan berambut sebahu ini selalu meramaikan hadirnya bulan Ramadhan. Bersama tiga orang temannya, Esti membuat sajian manis untuk berbuka puasa atau kata lainnya tajilan. “Aku emang suka masak. Lagian lumayan buwat nambah uang saku”, ungkapnya sembari tersenyum lebar. Berbagai macam puding dan kolak tidak pernah absen dari lapak yang dibuatnya di pinggiran jalan di depan kampusnya. Selain, membuka lapak, perempuan yang berasal dari Purwodadi ini juga menjajakan dagangannya ke kos-kosan sekitarnya. “Pudingnya enak. Macem-macem bentuknya”, ujar Keke, salah satu pelanggan setia dagangan Esti. Di luar bulan puasa, Esti biasa membuat berbagai macam kue. Dan ia menjual kue-kue itu kepada teman-temannya, baik di kosnya maupun di kampusnya. Meskipun belum mampu menghasilkan apapun dari usahanya tersebut, tapi setidaknya ia dan teman-temannya mampu membantu perekonomian keluarganya dengan menghemat pengeluaran uang sakunya.

Mungkin pada awalnya tidak selalu berjalan lancar. Karena pada dasarnya tidak ada hal yang mudah di dunia ini. Seperti hal yang dialami oleh Esti. “Pernah sehari itu kue yang aku bikin ga ada yang mau beli”, terang perempuan berlesung pipit ini. Namun bukan berarti usaha yang awalnya tidak lancar akan selalu berakhir dengan sebuah kegagalan. “Tidak ada yang tidak mungkin di muka bumi ini”, demikian orang biasa menyebutkannya. Bukan tidak mungkin usaha yang dirintis oleh Esti, maupun wirausahawan-wirausahawan lainnya akan berkembang dengan pesat beberapa tahun yang akan datang. Dan pada akhirnya, kewirausahaan dapat memajukan kegiatan perekonomian di negara ini. Bukankah kewirausahaan ini akan lebih bermanfaat daripada gaya hidup konsumtif yang kini banyak diganyang masyarakat Indonesia?



Tak Kenal Lelah

-tulisan pendukung-

Membantu perekonomian keluarga. Kalimat inilah yang selalu hadir dalam benak Esti Wijaya. Menjadikannya lebih kuat dan meningkatkan daya juangnya menghadapi kehidupan di era globalisasi ini.

Ketika mahasiswa seumurannya tengah sibuk memilah-milih pakaian di butik-butik, atau duduk berjam-jam di salon, Esti justru tengah sibuk berkutat di dapur kecil di kosnya. Membuat berbagai macam cemilan. Bukan karena ia gemar ngemil, tapi karena itu merupakan usahanya. Usaha kecil yang tengah dirintisnya perlahan. Baginya, itu lebih bermakna dari sekedar berfoya-foya dan menghamburkan uang. “Kalo gitu si bukan aku banget”, akunya.

Belajar dari ibunya yang juga pandai memasak, perempuan berkulit putih ini tidak menyia-nyiakan kemampuannya. “Daripada Cuma masak buat sendiri, kalo begini kan lebih bermanfaat. Apalagi banyak yang suka kue-kue bikinanku”, jelasnya panjang lebar. Hal ini diamini oleh Dian dan Resti, teman satu kos Esti yang juga pelanggan tetapnya. “Kuenya ga bikin eneg”, papar Dian disertai anggukan mantap dari Resti.

Namun, bisnis ini tidak melulu lancar. Ada kalanya hambatan juga ikut melengkapi perjalanan karirnya. Ketika kue yang dibuat gagal atau saat penjualannya tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan. “Pernah sehari itu kue yang aku bikin ga ada yang mau beli”, paparnya. Tidak hanya sekali atau dua kali saja hal tersebut terjadi, melainkan sering kali. Namun, Esti tidak pernah berhenti berusaha. Ia tetap sabar dan tidak kenal lelah. “Kalo gitu ajah nyerah, kapan bisa majunya?”, ucapnya berusaha meyakinkan diri. Dengan keyakinan yang dimilikinya itulah Esti berhasil memajukan usahanya secara perlahan.

Meskipun belum mampu memperoleh pendapatan yang besar, tetapi setidaknya dari usaha yang dilakoninya tersebut, Esti mampu membantu perekonomian keluarganya. Ia mampu membayar kos sendiri, memperoleh tambahan uang saku dan sedikit demi sedikit menambahi tabungannya. Sangat sedikit mahasiswa yang memiliki jiwa pekerja keras seperti Esti. Semangat berwirausaha inilah yang seharusnya ditanamkan kepada banyak generasi muda penerus bangsa lainnya. Agar mereka tidak terbiasa bergantung pada orang lain.

Wahyu Dwi Septiningrum

153070206

A





UAS in depth news

11 01 2010

Mesin Cuci Menjadi Mesin Uang

Bisnis Laundry merebak disetiap sudut kota Yogyakarta, bisnis ini pun sangat menjanjikan. Dibalik cucian kotor tersimpan keuntungan yang berlimpah.

Laundry, itu merupakan tempat yang sudah tidak asing bagi kita. Diberbagai daerah, diberbagai kota, kita bisa menemukannya. Bisnis ini berawal dari laundry rumahan yang kemudian berkembang menjadi laundry kiloan atau yang biasa disebut cuci kiloan yang kita tahu sekarang ini.

Laundry mulai ada karena banyak orang yang mulai sibuk dengan  aktivitasnya sampai-sampai tidak ada waktu untuk mencuci pakaian mereka sendiri. Sejak pagi mereka sudah bergelut dengan pekerjaanya atau aktivitasnya, pulang sudah larut malam, dan hanya ada satu dibenak pikiran yaitu istirahat.

Sebenarnya mencuci pakaian adalah hal yang sepele, namun kareka kesibukan, hal itupun menjadi hal yang susah untuk dilakukan. Kerena itulah, bagi pengusaha laundry bisa dibilang mencuci pakaian adalah aktivitas yang kecil namun membawa pengaruh besar dalam kehidupannya. Badar, salah satu pemilik usaha laundry mengatakan bahwa usaha laundry ini cukup menguntungkan. Dia memilih usaha ini karena prospeknya bagus untuk kedepannya. Dimana banyak orang yang malas untuk melakukan pekerjaan ini.

Pada mulanya orang tidak mengerti bisnis ini. Apa sih laundry kiloan? Itu merupakan pertanyaan yang sering ditanyakan orang. Laundry kiloan sendiri adalah Jasa Pencucian Pakaian yang pembayaran jasa pencuciannya berdasarkan timbangan berat pakaian dalam kilogram. Setelah konsumen mengetahui bagaimana laundry kiloan itu, mereka mulai menerima. Mereka akan merasakan bahwa mencuci kiloan lebih hemat dan dari usaha ini orang yang sibuk terbantu untuk pekerjaan mencuci ini. Baik konsumen maupun pemilik laundry kiloan disini saling diuntungkan. Bagi konsumen biaya mencuci sangat ringan sesuai uang yang dimiliki. Disini pengusaha laundry juga diuntungkan, karena dengan harga yang terjangkau dapat menarik konsumen yang begitu banyak.

“ Laundry sangat membantu saya. Saya selalu sibuk hampir gak ada waktu buat nyuci baju, karena itu saya membutuhkan jasa ini buat nyuci baju saya,” ungkap Sari karyawan salah satu perusahaan swasta di Yogyakarta. Hal serupa diungkapkan oleh Maya, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. “Kalau ada laundry ngapaian harus susah-susah mencuci, selain itu saya juga gak ada waktu buat nyuci,” kata gadis cantik itu.

Melihat peluang bisnis yang bagus tersebut, banyak orang yang memilih bisnis ini. Sejak itulah Bisnis ini mulai merebak diberbagai kota. Pangsa pasar untuk laundry kiloan pun sangat luas mulai dari mahasiswa, rumah tangga, rumah sakit, rumah makan, bahkan perhotelan sekalipun. Harga murah dan pelayanan yang relatif cepat menjadi daya tarik bagi para pelanggannya.

Selain sistem kiloan, ada sebagian pengelola laundry menerapkan tarif konvensional tetapi tetap disesuaikan dengan pelanggannya. Kemeja atau kaos lengan pendek misalnya, cuman dikenakan 300 rupiah perpotong. Celana panjang 700 rupiah atau celana jeans 1000 rupiah perpotong. Sebagian tempat laundry bahkan ada yang menerapkan sistem paket.

Dengan uang 30 ribu rupiah, pelanggan dapat mencuci hingga 50 potong pakaian selama dua bulan. Namun meski terbilang murah dan terjangkau, tidak semua mahasiswa memanfaatkan laundry ini. Hanya disaat-saat tertentu mereka terpaksa membawa pakaian kotor ke laundry.

Walaupun banyak system yang ditawarkan banyak tempat laundry, system kiloan lah yang banyak diminati. “lebih murah laundry kiloan daripada laundry yang dihitung per baju, karena itu saya pilih kiloan. Lebih hemat!,” ungkap Santi, pelanggan Laundry.

Dalam perkembangannya, bisnis laundry pun mulai ada yang menggunakan system waralaba. Contohnya adalah Laundry Zone. LaundryZone merupakan Waralaba Laundry Kiloan dari Yogyakarta yang menggabungkan pengalaman terbaik dari tiga Laundry Kiloan : OneDay Laundry (berdiri 2002), NeoGrand Laundry, dan Fresh Laundry. LaundryZone mulai menawarkan peluang kerjasama waralaba untuk seluruh wilayah Indonesia dengan konsep Laundry Kiloan dengan komitmen cucian setiap pelanggan tidak dicampur dengan pelanggan lain dalam proses pencuciannya. System ini pun menjanjikan bagi mereka yang ingin bekerja sama. Hal ini karena Market leader dan merek dominan, tetap tumbuh dan berkembang ditengah persaingan yang ketat di kota asalnya Yogyakarta. Laundry ini merupakan bisnis jaringan (network) sehingga dengan anggaran relatif rendah dapat mengadakan promosi yang “wah”

Sebagaimana dikatakan Aditya, laki-laki yang berusia 45 tahun ini yang memiliki salah satu cabang laundry Zone, mengatakan bahwa system waralaba mempermudah dia untuk membuka usaha landry. Dengan merek yang sudah dikenal masyarakat, laudrynya sudah banyak mendapatkan pelanggan.

Akibat dari maraknya bisnis ini, banyak orang yang memerlukan pelatihan laundry. Untuk memulai usaha laundry ini memang tidak semudah yang dipikirkan banyak orang, terutama dalam menghadapi persaingan antar usaha sejenis. Diperlukan perencanaan dan perhitungan yang matang serta strategi pemasaran yang pas dengan target pasar yang dituju. Pelatihan Laundry ini merupakan persiapan yang dilakukan orang untuk berbisnis laundry. Hal ini juga diakui oleh Badar, “Pengetahuan saya tentang laundry ini banyak saya peroleh dari pelatihan ataupun seminar. Pengetahuan itu saya terapkan dalam usaha saya ini,” ungkapnya.

Suatu bisnis akan berjalan dengan baik bila ada perencanaan yang baik dan manajemen yang baik pula. Bisnis laundry pun juga begitu. Bisnis kecil jika mempunyai strategi yang baik maka akan menuai keuntungan juga.

_Tulisan Utama_

Dari Cucian, Memetik Keuntungan

Keuntungan bukan hanya berasal dari bisnis besar saja, dari cucian pun keuntungan datang. Bisnis kecil bukan berarti kecil pula keuntungannya.

Beberapa tahun terakhir, bisnis laundry dengan pangsa pasar utama mahasiswa kian marak di Yogyakarta. Harga murah dan pelayanan yang relatif cepat menjadi daya tarik bagi para pelanggannya. Prospek usaha ini pun bagus. Dari pandangan itulah orang berminat membuka usaha ini.

Apabila kita melewati daerah gedong kuning, Yogyakarta. Dengan mudah kita akan menjumpai rumah-rumah memasang papan nama menawarkan jasa laundry. Salah satu laundry yang ada disana adalah Laundry Duloe. Laundry ini terbilang laundry baru tetapi tidak kalah bersaing dengan Laundry lainnya. Laundry Duloe merupakan salah satu Laundry kiloan yang ada.

“Senyum sapa salam” merupakan slogan yang diterapkan oleh Laundry Duloe untuk melayani pelanggannya. Dari slogan ini diharapkan pelanggan tetap setia. Berawal dari modal yang tidak begitu besar, laundry ini mencoba untuk bersaingan dengan yang lainnya.

Usaha jasa cuci pakaian milik Badar (25) ini telah berjalan hampir 2 tahun. Awalnya, Badar mencoba usaha ini karena susahnya mencari pekerjaan di jaman sekarang ini. “Usaha laundry menarik perhatian saya karena dari cucian saja kita bisa mendapat keuntungan yang lumayan,” ungkapnya.

Jika berbicara masalah keuntungan, laundry ini sudah memdapat keuntungan yang lumayan. Keuntungan itu pun bisa mengganti modal yang telah dikeluarkan. “Mendapat berkah dari tumpukan cucian kotor, itu yang saya rasakan sekarang,” katanya.

Untuk memuaskan pelanggannya, berbagai layanan ditawarkan. Layanan itu seperti, ada layanan antar-jemput, fasilitas ekspress 4 jam jadi dan ada juga layanan setrika. Hargapun relative lebih murah daripada laundry lainnya.

Dibalik keuntungan itupun, usaha ini juga ada kendalanya. Mesin rusak, listrik mati, keluhan dari pelanggan, semua itu adalah kendala yang sering diterima. Hal ini pun sesuai yang diungkapkan laki-laki berusia 25 ini, “Banyak kendala yang sering kami terima, tetapi dari situlah kita mencoba memperbaiki kekuarangan yang ada agar pelanggan tetap percaya dengan jasa kita,” ungkapnya.

_Tulisan Pendukung_

(Metta Widyaningrum)

UAS Jurnalisme Online

153070201 / A





PESTA KEMBANG API, JOGJA PERINGATI TAHUN BARU 2010

7 01 2010

PESTA   KEMBANG API, JOGJA  PERINGATI  TAHUN  BARU  2010

 

            Tepat di Km 0 Yogyakarta ( 31/12 ). Sejak pukul 7 malam ribuan warga mulai memadati Jalan malioboro yang berpusat di depan kantor pos.

            Pentas seni pun ikut memeriahkan pesta tahun baru, dengan adanya panggung hiburan dari Pemkot Jogja yang bertempat di depan monument 1 Mater .

Pukul 22.40 Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto datang beserta  rombongan sepeda dari balai kota sampai depan monument 1 Maret, Dan di sambut  duta abang-nona Jogjakarta.

            Tak hanya warga Jogjakarta yang ingin menyaksikan pesta kembang api, namun juga terdapat  turis asing yang terlihat antusias menunggu detik-detik pergantian tahun baru.

Sebelum kembang api di nyalakan, di lakukan penghitungan mundur oleh wali kota Jogjakarta, Herry Zudianto dari panggung.

            Pesta kembang api pun dimulai, Teriakan trompet tak dapat dielakan di malam tahun baru itu. Pesta kembang api yang terjadi kurang lebih 40 menit itu, tak luput dari keasyikan warga untuk  segera mengabadikan dengan Vidio Hp dan foto.

 Setelah selesai, warga pun mulai meningalkan tempat dan kemacetan pun tak dapat di elakkan lagi. Namun ada juga warga yang ingin menghabiskan waktu pergantian tahun baru sambil nongkrong bersama teman dankeluarga di tepi jalan.

( Kharisma Ayu )





RIBUAN ORANG BERLIBUR KE KALIURANG

7 01 2010

RIBUAN  ORANG  BERLIBUR  KE  KALIURANG

 Yogyakarta (30/12) Memperingati hari libur natal dan tahun baru, Objek wisata kaliurang di padati pengunjung. Atmadi Kurniawan, petugas di pemungutan retribusi (TPR) menjelaskan bahwa pengunjung tahun ini naik 10% di bandingkan tahun lalu.

Kepadatan di kaliurang mulai terlihat sejak hari kamis lalu. Bila tahun lalu pengunjung hanya mencapai 1600 orang, namun sekarang pengunjung mencapai 1800 wisatawan.

            Wisatawan yang berkunjung ke kaliurang tidak hanya dari dalam kota, namun juga dari luar kota, jelas pria separuh baya ini.

Dari nomor kendaraan yang masuk ke objek wisata kaliurang. Kebanyakan pengunjung lokal menaiki sepeda motor, sedangkan pengunjung luar kota menggunakan mobil pribadi.

            Objek wisata yang buka dari pagi hingga malam hari ini, tiap harinya  mencapai 7ribu wisatawan. Atmadi melanjutkan, bahwa untuk menjaga keamanan dan ketertipan di hari libur ini, Objek wisata Kaliurang mulai menambah jumlah TPR atau polisi agar keamanan dan ketertipan tetap  terkendali.

( Kharisma  Ayu )