BENTENG VREDEBURG, SEBAGAI SAKSI BISU SEJARAH KOTA JOGJA

8 11 2009

BENTENG VREDEBURG,

SEBAGAI SAKSI BISU SEJARAH KOTA JOGJA

Oleh : Kharisma Ayu

DSC01692

Tepat dibelakang Monumen Serangan Umum 1 Maret, berdiri bangunan yang kokoh dan kuat, sebuah bukti warisan sejarah kota Jogjakarta. Benteng Vredeburg terletak di jalan Jendral A. Yani 6, Jogja. Dulunya bangunan ini bernama Benteng Rustenburg yang berarti Benteng Peristirahatan, dibangun oleh Belanda pada 1760 di atas tanah keratin. Setelah direnovasi karena rusak akibat gempa 1867 namanya diganti menjadi Benteng Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian.

Donah Nawawi (45), Pemandu wisata Benteng Vredeburg menuturkan bahwa Benteng Vredeburg Yogyakarta berdiri terkait erat dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti 13 februari 1755 yang berhasil menyelesaikan perseteruan antara susuhunan Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi ( Sri Sultan Hamengkubuwono I ) yang merupakan hasil politik Belanda ingin ikut campur urusan dalam negri Raja-raja Jawa pada waktu itu. Orang Belanda yang berperan penting dalam lahirnya Perjanjian Giyanti adalah Nicolaas yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa. Sejak bulan maret 1754.

DSC01708

Perjanjian tersebut adalah perwujudan dari usaha untuk membela Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, yaitu Kasultanan Surakarta Dan Kasultanan Yogyakarta. Selanjutnya Kasultanan Yogyakarta diperintah oleh Sri Sultan Mamengkubuwono I dan Kasultanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono III.

Setelah keraton mulai ditempati kemudian berdiri pula bangunan-bangunan pendukung lainnya, misalnya bangunan kediaman Sultan dan kerabat dekatnya dinamakan Prabayeksa, bangunan Sitihinggil dan Pagelaran yang selesai dibangun pada tahun 1757, Masjid Agung, Benteng besar yang mengelilingi kraton, dan Bangsal Kencana yang selesai pada tahun 1792.

Melihat kemajuan yang sangat pesat akan pembanguna keraton yang didirikan Sri Sultan HB I menimbulkan rasa kekhawatiran pada pihak Belanda sehingga diajukanlah usul untuk membangun sebuah benteng disekitar wilayah kraton. Alasannya agar Belanda dapat menjaga keamanan kraton dan sekitarnya. Akan tetapi maksud sesungguhnya Belanda adalah untuk memudahkan melakukan kontrol perkembangan yang terjadi di kraton. Hal ini dapat dilihat dari letak benteng yang hanya berjarak satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya menghadap ke jalan utama menuju kraton merupakan indikasi utama bahwa fungsi benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng penyerangan dan blockade.Dapat dikatakan, Benteng tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Sultan memalingkan muka memusuhi Belanda. Besarnya kekuatan kontrak politik dilahirkan dalam setiap perjanjian.

Donah Mawawi (45) menjelaskan, Benteng dibangun pada tahun 1760 atas permintaan Sri Sultan HB I , dengan bentuk yang sangat sederhana yaitu berbentuk bujur sangkar. Keempat sudutnya dibuat pempat panjangnya yang disebut sebagai seleka atau bastion yang menyerupai bentuk kura-kura dengan keempat kakinya. Oleh Sultan, keempat sudut tersebut diberi nama Jayawisesa (sudut barat lau), Jayapurusa ( sudut timur laut ), Jayaprakosaning ( sudut barat daya ), dan Jayaprayitna ( sudut tenggara).

Tahun 1765, diusulkan kepada Sultan agar benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanent agar lebih menjamin keamanan. Usul tersebut dikabulkan dan selanjutnya pembanguna benteng dikerjakan dibawah pengawasan seorang Belanda ahli ilmu bangunan bernama Ir Frans. Tahun 1767 pembangunan benteng dimulai, kontruksinya menggunakan semen merah, gamping, pasir, batu bata. Benteng tersebut telah selesai di sempurnakan tahun 1787 dan diberi nama Benteng Rustenburg yang berarti benteng peristirahatan.

Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang sangat dasyat sehingga banyak merubuhkan bangunan-bangunan. Dan salah satunya Benteng Rustenburg yang segera dilakukan pembenahan di beberapa bagian bangunan yang rusak. Setelah selesai di bangun kembali, nama benteng diganti menjadi Benteng Vredeburg yang berarti benteng perdamaian. Nama ini di ambil karena hubungan antara Kasultanan dan Belanda yang tidak saling menyerang pada waktu itu.

Seiring dengan perkembangan politik di Indonesia maka status kepemilika Benteng Vredeburg juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdirinya benteng ini di miliki Kraton walaupun dalam penggunaannya dihibahkan kepada Belanda. Kebangkrutan VOC menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Belanda. Ketika Inggris berkuasa maka benteng dibawah penguasa inggris. Status benteng sempat kembali ke pemerintahan Belanda sampai menyerahnya Belanda kepada Jepang di tahun 1942.

9 Maret 1980 dengan persetujuan Sri Sultan IX Benteng Vredeburg dijadikan sebagai pusat informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara pada tanggal 16 April 1985 dilakukan pemugaran untuk dijadikan Museum Perjuangam. Musium mulai dibuka untuk umum pada tahu 1987 dan 23 November 1992 Benteng Vredeburg resmi menjadi “Musium Perjuangan Nasional” dengan nama “Musium Benteng Vredeburg”.

Setelah di fungsikan sebagai museum, Benteng Vredeburg memiliki koleksi lengkap meliputi koleksi bangunan, koleksi realia, koleksi foto termasuk miniature dan replica serta koleksi lukisan. Selain itu terdapat empat ruang pameran minirama sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tegas Dolah yang juga bekerja di Dinas Pariwisata DIY.

DSC01695“Benteng Vredeburg sebagai saksi bisu sejarah kota Jogjakarta, harus tetap di jaga dan dilestarikan sebagai bukti kecintaan kita akan nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia. Benteng yang buka setiap harinya ini, hanya dengan Rp750,-, masyarakat lokal atau wisatawan domestik dapat menikmati sejuta pesona yang ada di benteng Vredeburg. Maka kunjungi dan rasakan suasana kemerdekaan saat itu !”, tegas Pemandu Wisata Benteng Vredeburg.

 

 

UTS / Feature

Nama : Kharisma Ayu

NIM : 153 070 115

Kelas : A


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: