” Di Balik Keindahan Pantai Parangtritis.. ?! “

29 12 2009

DI BALIK   KEINDAHAN   PANTAI   PARANGTRITIS.. ?!

                    Siapa  yang tak kenal pantai Parangtriti?. Pantai dengan sejuta pesonanya, dan  ombaknya yang besar, seolah menambah daya tarik tersendiri bagi tiap hati pengunjung. Tetapi  di balik keindahan pantai parangtritis, sangat di sayangkan. Karena kini ketika kita berkunjung ke pantai parangtritis, akan kita jumpai kotornya pantai karena sampah yang berserakan dan buruknya moral di malam hari. Hal ini seolah menjadikan sebuah ironi di parangtritis. Lalu siapa yang harus dipersalahkan?

 Tim  Djogjalicious mencoba menyelusuri, untuk mendapatkan jawabannya ?!

                       Parangtritis merupakan salah satu wisata pantai yang paling diminati oleh wisatawan. Dibalik kekurangannya tersimpan Sejuta Pesona yang menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik pengunjung. Dari dulu hingga sekarang pantai parangtritis tetap menjadi salah satu icon di Yogyakarta.

                      Walaupun banyak kekurangan seperti sampah yang merusak pemandangan dan adanya tempat prostitusi, pantai ini menyimpan berbagai pesona yang sangat menarik dibalik kekurangannya, baik pesona alamnya maupun legendanya. Kekurangan itupun tidak jadi masalah bagi wisatawan setelah mereka melihat indahnya pemandangan alam disana. Menikmati pemandangan alam tentu menjadi yang paling utama yang dilakukan wisatawan.

                     Di kawasan parangtritis, tidak hanya terdapat wisata pantai saja, tetapi juga ada objek wisata budaya atau sejarah yang terdapat di daerah sekitar pantai parangkusumo, objek wisata religious yang berada di desa grogol dan objek wisata sungai opak, serta objek wisata pendidikan di sekitar gumuk pasir. Selain beberapa objek wisata yang disebutkan, ada beberapa tempat wisata lain yang mempunyai peran yang cukup potensial pula dalam kapariwisataan kabupaten bantul.

                      Namun dari beberapa objek wisata di kabupaten bantul, pantai parangtritis adalah objek wisata yang paling banyak dikunjungi. Wisata pantai ini tetap mnenjadi andalan. Hal ini terlihat dari Jumlah wisatawan yang berkunjung. “Walaupun ada banyak tempat pariwisata di yogyakarta, pantai parangtritis tetap menjadi pilihan utama bagi para wisatawan, “ kata Dinas Pariwisata, Sukarman.

                  Sebagaimana dikatakan Sukarman, lelaki yang kini genap berusia 40 tahun, dan juga bekerja sebagai staf  Dinas Pariwisata Bantul, menyatakan bahwa, Ada dua hal yang selama ini masih menjadi kendala dalam menciptakan kawasan pantai parangtritis yang asri, yang pertama adalah masalah kebersihan fisik, yaitu sampak yang semakin hari volumenya semakin banyak, hingga merusak pemandangan pantai, sebenarnya kami dari Dinas Pariwisata Bantul, telah mengerahkan 33 personil untuk membersihkannya pantai dari pagi hingga siang hari, namun semakin banyaknya pengunjung maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan dan itu sudah menjadi resiko tiap objek wisata di manapun, tegas Sukarman.

                    Namun yang menjadi pertanyaan Djogjalicious, bagaimana manajemen pengelolaannya ??, pertanyaan ini mulai dijawab oleh Sukarman sambil membukakan buku data APBD, Ia menyatakan,  Yah,, lagi-lagi masalah dana yang menjadi kendala kami. Meminta dana dari pemerintah, tidak segampang membalikkan telapak tangan, semua ada prosedur dan ada yang harus di prioritaskan,. Bila pihak kami ingin meminta dana tambahan, maka harus mengajukan proposal yang harus di setujui dari tingkat RT, RW,  Desa, Kabupaten, provinsi, pusat dan setelah melalui proses yang panjang,

                Dana dari hasil penjualan tiket masuk objek wisata Parangtritis  tersebut nantinya harus disetorkan kepada Dinas Pariwisata untuk kemudian disampaikan ke Pemerintah Daerah sebagai pendapatan asli daerah ke dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Setelah itu baru diproses – dengan proses yang panjang tentunya – sehingga dapat diperoleh dana yang dianggap sesuai untuk perawatan Pantai Parangtritis. Pemerintah juga memiliki skala prioritas dalam memberikan kucuran dana, yang mana pemerintah lebih memprioritaskan bidang pendidikan dan kesehatan yang masih di anggap kurang pada tahun ini.

                     Hal ini pastinya sangat di sayangkan oleh semua pihak, Belum lagi semakin menjamurnya PKL (Pedagang kaki Lima) di tepi pantai parangtritis, Tim Jogjalicious sempat mewawancarai  Sri, salah satu PKL yang sedang menjajakan barang dagangannya, yang kini genap berusia 40 tahun, dia mengaku sudah bekerja selama 3 tahun di pantai Parangtritis, Memilih tempat  ini karena  pengunjung lebih ramai di tepi pantai. Ia juga mengaku pernah di grebek oleh Satpol PP karena sebenarnya tidak boleh berjualan di tepi pantai, dan  mengganggu pengunjung pantai. Tapi menurut ibu dua anak ini, hal tersebut tidak mengganggu karena setiap pengunjung yang ingin membeli jajanan disini  tidak harus jauh-jauh jalan ke depan lagi untuk membeli sesuatu.

                   “Walaupun sudah lebih dari 3 kali saya disini selalu digrebek satpol PP, tetapi tetap saja saya kembali ke kawasan pantai ini untuk berdagang. Keuntungan atau kesenangan lain yang saya dapat jika berjualan disini adalah bisa dekat dengan pengunjung, sehingga keuntungan penjualan saya lebih banyak”, tuturnya.

                     Pendapat lain di sampaikan oleh, Suyanto (24) Ia adalah seorang petugas kebersihan, “Pantai ini sejak ramai dikunjungi banyak pengunjung pada tahun 1980an, sejak saat itulah banyak pedagang PKL yang berjualan juga di kawasan pantai, itu sangat mengganggu keindahan pantai. Sebenarnya pihak dari Dinas Pariwisata sudah memberikan tempat tersendiri bagi PKL yang ingin berjualan, tetapi PKL tetap saja kekeh dengan berjualan di tempat yang tidak semestinya untuk berdagang. Itu membuat kawasan yang tadinya bersih menjadi kotor”, jelasnya. Semoga kesadaran masyarakat dan PKL ada untuk menjaga pantai tetap bersih.

                    Di tempat terpisah, Tim Djogjaliciou mencoba meminta pendapat pengunjung, dan ia menjelaskan bahwa, “Sangat disayangkan, pantai ini mulai dikunjungi oleh pengemis, mungkin saya dan pengunjung lain merasa sedikit terganggu dengan hal itu karena mungkin kita ingin menikmati keindahan pantai ini tetapi justru melihat pemandangan yang tidak menyenangkan”. Komentar  Gilang (24 th), wisatawan dari Jawa Barat. Ia menambahkan, bahwa Parangtritis ini sebaiknya tetap dijaga keindahannya supaya makin banyak pengunjung dan seharusnya pantai ini sering dijadikan ajang promosi sampai ke Luar Negeri kalau perlu supaya tourist asing juga berkunjung kemari.

                  Namun permasalahannya, tak sedikit PKL yang tetap bersikukuh untuk tetap berjualan di tepi pantai Parangtritis.Lalu apa tindakan Dinas Pariwisata Bantul??. ”Para PKL sebenarnya telah di beri tempat yang cukup luas dan layak, namun tak banyak yang mau untuk menjajakan barang dagangannya di tempat yang telah kami sediakan, dan alasannya sama saja seperti yang mereka ungkapkan”, jelas Sukarman Staf Dinas Pariwisata Bantul. Dirinya menambahkan, Namun dinas pariwisata sebenarnya tidak berhenti sampai di situ, kami selalu bekerjasama dengan satpol PP untuk memberikan pengarahan melakukan razia, Kami juga memiliki kegiatan sadar wisata dan sapta pesona yang diadakan tiap bulan sekali dengan tujuan memberikan kesadaran dan pengarahan bagi pengunjung, penduduk setenpat, termasuk juga Para PKL akan pentingnya menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan.

                      Kegiatan yang telah ada sejak tahun 1993 ini, menuruk teropong Djogjalicious tidak begitu membuahkan hasil  yang baik, karena seperti apa yang telah kita lihat tiap berkunjung di parangtritis, tidak seindah dulu. Sehingga Tim Djogjalicious tidak mendapatkan jawaban yang pasti, ketika Sukarman hanya menjawab, bahwa Dinas Pariwisata Bantul akan terus bekerja dan melakukan yang terbaik demi keasrian pantai parangtritis.

                        Masalah  non fisik, yang juga  menjadikan pesona parangtritis menjadi sebuah ironi adalah kebobrokan moral yang  di lakukan para pelaku ( PSK dan lelaki hidung belang) di pantai parangtritis, seolah tak dapat di ragukan lagi keberadaan para PSK yang justru mereka memiliki daerah pusat, yaitu di daeran Mbolong, Parangtritis.

                    Sangat ironi, ketika tim Djogjalicious menemukan salah seorang PSK yang ternyata masih duduk di bangku sekolah, sebut saja ia sekar, ganis yang usianya masih  18 tahu ini, mengaku bahwa ia melayani nafsu seksual para hidung belang itu, semalam sekar biasanya bisa melayani tiga sampai enam hidung belang, dengan bayaran yang dia tentukan, dia siap melayani para hidung belang tersebut, “saya sih tidak melihat dia jelek atau sudah tua, yang penting dia mempunyai uang yang banyak dan siap berkencan dengan saya” , ucapnya sambil menghisap sebatang rokok. Tak ada rauk menyesal di wajah polosnya, gadis yang tiap malam mendapat honor 600ribu -1 juta ini mengaku, kalau dia  juga bersedia diajak keluar sesuai permintaan si hidung belang, bisa di hotel, villa atau di mobil. Sekar menambahkan, “bahwa saya tahu kalau pintu surga tidak akan terbuka untuk saya, namun mau bagaimana lagi himpitan ekonomi juga memaksa saya untuk melakukan hal tersebut”. Tegasnya.

                    Djogjalicious, menanyakan keberadaan PSK di mata sosiologi, oleh Dosen Sosiologi UPN “V” Yogyakarta, Retno,S.Sos.M,Si, menjelaskan bahwa tindakan sosial merupakan tindakan-tindakan yang berorientasi pada orang lain. Sehingga PSK (Pekerja Sex Komersial) di masyarakat tidak perlu di berantas dengan razia atau garuan, dsb, karena itu adalah suatu penyakit masyarakat. Ibu dari dua anak ini menambahkan, bahwa banyak faktor yang mengakibatkan seseorang memilih untuk menjadi PSK, karena lingkungan keluarga yang tidak harmonis, kebutuhan ekonomi yang mendesak, lingkungan pertemanan, bahkan media massa yang memberikan efek negatif terhadap masyarakat.

                   Solusi terbaik yang seharusnya di lakukan dalam menangani masalah ini adalah memahami dari si pelaku (PSK), Dan kenapa mereka melakukan tindakan tersebut?. Jangan hanya menyalahkan PSK, karena PSK tidak dapat di hilangkan selama masih ada lelaki hidung belang. Dengan demikian harus melakukan pendekatan dan sosialisasi secara bertahap dan berkelanjutan.

                     Dimana Pemerintah harus bersinergi dengan Departemen Agama dan Dinas Sosial secara komprehensif untuk membangun moral masyarakat, khusurnya PSK dan lelaki hidung belang. Tegas wanita yang kini telah merampungkan studi S2 di Universitas Gajah Mada.

                    Di tempat terpisah. Djogjalicious mencoba menanyaka ke pada Dinas Pariwisata Bantul tentang keberadaan PSK. Sukarman menjelaskan, bahwa masalah PSK bukan tanggung jawab Dinas Pariwisata seutuhnya, namun Dinas Pariwisata Bantul telah bekerjasana dengan satpol PP, Kepolisian, bahkan kepada Dinas Kesehatan Bantul untuk terus memberikan penyuluhan dan pemahaman ke pada para PSK, dan ketika ada PSK yang mau untuk berubah, maka mereka akan di beri modal sebagai usaha.

                   Dirinya juga menambahkan, untuk 5 tahun ke depan, Kawasan Parangtritis diharapkan menjadi sebuah kawasan wisata yang didalamnya tumbuh berkembang berbagai kehidupan, baik kehidupan alami-budaya maupun sosial-ekonomi, yang semuanya itu hidup berdampingan saling menjaga hubungan satu dengan yang lainya membentuk sebuah lingkungan hidup yang harmonis. kawasan parangtritis sebagai sebuah kawasan wisata yang asri dan berkesan bagi wisatawan, Hingga dapat menjawab keluhan wisatawan selama ini  akan kebersihan fisik dan non fisik pantai parangtritis, Tegasnya.

                  Semoga saja itu bukanlah sebuah lagu untuk hati yang sendu. Karena mimpi bukan sebuah harapan, tetapi mimpi adalah perjuangan yang harus di wujudkan. Akankah Dinas Pariwisata Bantul dapat mewujudkannya??… Kita tunggu saja!!

 Penulis              : Kharisma Ayu Febriana

 Pewawancara   : Kharisma Ayu Febriana / Metta Widyaningrum / Lestrya Ramadhani /  Wahyu Dwi Septiningrum /       Ikhsan Hikmawan

 Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

JADI ANDALAN, WALAUPUN BANYAK KEKURANGAN

 

                 Diakui, parangtritis wisata pantai yang paling diminati oleh wisatawan. Dibalik kekurangannya tersimpan Sejuta Pesona yang menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik pengunjung.

                    Parangtritis merupakan wisata pantai yang paling terkenal di Yogyakarta. Pantai ini tidak hanya terkenal di Indonesia akan tetapi sudah sampai ke mancanegara. Parangtritis menjadi tujuan utama bagi wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing. Pantai yang cantik ini terletak di Kabupaten Bantul, sekitar 27 kilometer dari Kota Yogyakarta ke arah selatan, memanjang dari ujung timur yang di batasi oleh tebing pegunungan ke arah barat hingga pantai-pantai selanjutnya yaitu Parangkusumo, Depok, dsb.

                    Dari dulu hingga sekarang pantai parangtritis tetap menjadi salah satu icon di Yogyakarta. “Pantai ini begitu indah walaupun banyak juga pantai lain di Jogja yang tidak kalah menarik, tapi lihat saja, bagi penduduk luar Jogja jika ingin berkunjung ke Jogja pasti tidak akan melewatkan pantai indah ini,” tutur Gilang, pemuda tampan yang sering mengunjungi pantai parangtritis. Walaupun banyak kekurangan seperti sampah yang merusak pemandangan dan adanya tempat prostitusi, pantai ini menyimpan berbagai pesona yang sangat menarik dibalik kekurangannya, baik pesona alamnya maupun legendanya. Kekurangan itupun tidak jadi masalah bagi wisatawan setelah mereka melihat indahnya pemandangan alam disana. Menikmati pemandangan alam tentu menjadi yang paling utama yang dilakukan wisatawan.

                    Untuk menikmati suasana pantai, bisa dengan berjalan di tepian pantai dan bisa juga dengan menyewa bendi yang ada disekitar pantai. Bendi merupakan ciri khas pantai parangtritis yang digunakan pengunjung untuk melihat pemandangan disepanjang pantai. Pemandangan yang paling menarik yang bisa disaksikan oleh pengunjung adalah ketika matahari terbenam (sunset), sehingga banyak para wisatawan yang rela untuk menunggu sampai sore untuk menyaksikan sunset di pantai ini. Dari parangatritis hanya sunset lah yang bisa di saksikan karena matahari terbit (sunrise) terhalang oleh pegunungan di sebelah timur parangtritis. “Saya datang kesini ingin melihat matahari terbenam yang terlihat cantik, sekalian menikmati indahnya pantai parangtritis,” kata Santi, gadis cantik yang berkunjung di pantai parangtritis.

                    Selain pesona alamnya, pantai parangtritis terkenal dengan Legendanya yaitu legenda Nyai Roro Kidul atau Ratu Penguasa Laut Selatan. “Legenda Ratu pantai selatan sudah tidak asing lagi bagi saya, bila mendengar Ratu pantai selatan yang saya ingat adalah pantai parangtritis, “ ungkap Nina salah satu pengunjung. Hal serupa juga diungkapkan oleh Deni pengunjung pantai parangtritis, menurut dia pantai parangtritis menarik perhatiannya, selain panorama alam yang indah, dia juga penasaran dengan pantai yang selalu dikaitkan dengan cerita Nyai Roro Kidul.

                     Disamping itu, Parangtritis juga terkenal karena digunakan sebagai tempat untuk pelaksanaan upacara labuhan yang diadakan oleh keraton Yogyakarta tiap waktu tertentu. Upacara labuhan merupakan wujud syukur masyarakat Yogyakarta khusunya para nelayan atas ‘berkah laut kidul’ yang telah diberikan kepada mereka. Dalam upacara ini dilakukan larungan terhadap berbagai macam persembahan yang ditujukan kepada penguasa laut kidul yaitu Nyai Roro kidul yang di percaya masyarakat telah memberikan kesejahteraan dan keselamatan dalam mencari rejeki di laut kidul.

                   Di kawasan parangtritis, tidak hanya terdapat wisata pantai saja, tetapi juga ada objek wisata budaya atau sejarah yang terdapat di daerah sekitar pantai parangkusumo, objek wisata religious yang berada di desa grogol dan objek wisata sungai opak, serta objek wisata pendidikan di sekitar gumuk pasir. Selain beberapa objek wisata yang disebutkan, ada beberapa tempat wisata lain yang mempunyai peran yang cukup potensial pula dalam kapariwisataan kabupaten bantul.

                   Dari beberapa objek wisata di kabupaten bantul, pantai parangtritis adalah objek wisata yang paling banyak dikunjungi. Wisata pantai ini tetap mnenjadi andalan. Hal ini terlihat dari Jumlah wisatawan yang berkunjung. “Walaupun ada banyak tempat pariwisata di yogyakarta, pantai parangtritis tetap menjadi pilihan utama bagi para wisatawan, “ kata Dinas Pariwisata, Sukarman.

Data Kunjungan Wisatawan ke Pantai Parangtritis Tahun 2003 hingga 2006

No. Tahun Jumlah Wisatawan
1. 2003 1.421.202
2. 2004 1.384.320
3. 2005 1.341.931
4. 2006 795.432
5. 2007* 821.526

*Data hingga November 2007

Sumber : Diperda, Kabupaten Bantul, Tahun 2007

 Penulis              : Metta Widyaningrum

Pewawancara : Metta Widyaningrum /  Kharisma Ayu Febriana  / Lestrya Ramadhani / Wahyu Dwi Septiningrum /  Ikhsan Hikmawan

 Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

KAPAN SAMPAH INI AKAN  BERAKHIR ?? 

             Panas menyengat, disertai angin yang berhembus kencang. Hamparan pasir terlihat indah tersapu ombak yang mulai pasang. Tapi dari sisi lain, tidak sedikit sampah yang menumpuk membentuk gundukan. Tampak tak terawat dan tak terurus. Inilah gambaran Parangtritis saat ini. Tidak lagi asri seperti dulu lagi.

 

 

 

                   Banyak keluhan yang datang dari kondisi pantai seperti ini. Penuh sampah. Tidak mengherankan, karena hal itu juga diiyakan oleh Sukarman, staff keanggotaan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. “Pengunjung mengeluh, tentu saja. Apalagi ini tempat pariwisata, sudah barang tentu menjadi sorotan banyak orang”, ungkap bapak berkulit sawo matang ini.

                 Keluhan masyarakat akan sampah baik secara fisik maupun nonfisik di Pantai Parangtritis agaknya tidak mungkin akan terselesaikan seutuhnya. Banyak faktor yang menghambat proses pembenahan dan perbaikannya. Salah satu diantaranya adalah terkait masalah pendanaan.

                Ya, dana. Lagi-lagi dana yang menjadi masalahnya. Memang dana adalah masalah yang tidak akan pernah ada habisnya. Terutama di Indonesia. Tidak hanya di kalangan bawah, kalangan atas juga mulai diperbudak hal-hal yang terkait dengan uang. Problematika ini agaknya menyerang di berbagai bidang. Ekonomi, politik, sosial, budaya, semuanya. Lantas ada apa dengan pendanaan di Pantai Parangtritis?

                 Tumpukan sampah yang tampak pada beberapa tempat di Pantai Parangtritis merupakan sumbangsih dari berbagai pihak, mulai dari pengunjung yang membuang sampah seenaknya, pedagang kaki lima (PKL) yang turut menyisakan sampah jualannya, bahkan sampah kiriman dari tempat lain ikut pula memadati area pantai ini. “Sejak ramai pengunjung, sejak saat itulah banyak pedagang PKL yang berjualan juga di kawasan pantai”, ujar Suyanto, petugas kebersihan yang kala itu bertugas membersihkan Pantai Parangtritis. Dan baginya, itu sangat mengganggu keindahan pantai. Apalagi semakin tahun, jumlah pengunjung selalu meningkat. Dan bisa dipastikan jumlah PKL juga ikut meningkat. Dengan demikian volume sampah yang menghuni kawasan ini pun ikut bertambah. Selain itu, ketidakadaan fasilitas kebersihan yang memadai ikut menjadi penunjang munculnya banyak sampah.

                   “Berbagai upaya telah kami lakukan untuk menanggapi keluhan mengenai sampah tersebut, tapi sekali lagi, masalahnya adalah pada sulitnya dana yang kami peroleh”, terang Sukarman, staff keanggotaan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul.

                  Menurutnya, pihaknya telah mengerahkan petugas kebersihan untuk membersihkan area pantai ini, dan mereka bertugas setiap hari. Namun, tetap saja sampah berserakan kembali. Ini dikarenakan jumlah petugas kebersihan yang hanya 33 orang untuk wilayah Parangtritis yang sedemikian luasnya yaitu 967.2010 Ha. “Sebenarnya sangat susah untuk  membersihkan kawasan pantai sebesar ini dengan pekerja yang sangat terbatas”, ungkap salah satu petugas kebersihan pantai Parangtritis, Suyanto.

                  Hal ini, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, bahwa tidak terlepas dari masalah pendanaan. Dana yang dialokasikan Pemerintah Pusat untuk pembenahan pariwisata di Yogyakarta, terutama Pantai Parangtritis masih jauh dari cukup. Belum lagi proses yang berbelit membuat pencairan dana terasa semakin sulit.

                     Proposal yang diajukan harus melalui proses yang panjang untuk dapat disahkan sehingga dana dapat mengalir. Mulai dari tingkat kabupaten hingga dinas pusat, pengesahan terkesan berbelit-belit. Belum lagi pemerintah juga mempunyai skala prioritas yang menempatkan pariwisata pada urutan kesekian setelah pendidikan, kesehatan, dan bidang-bidang yang lainnya.

                    “Yang diutamakan dari pemerintah daerah itu pendidikan dan kesehatannya”, Sukarman mencoba menambahkan. Hal ini menjadikan semakin kecilnya dana yang diperoleh untuk memajukan pariwisata di kota Bantul, terutama Pantai Parangtritis. Bahkan bukan tidak mungkin proposal yang diajukan tidak memperoleh pengesahan dari pemerintah. “Karena mereka kan punya kriteria tersendiri untuk mengesahkan proposal”, lanjutnya.

                 Sementara itu, pemasukan dari wisatawan yang mengunjungi Pantai Parangtritis pun tidak dapat dipergunakan secara langsung untuk meningkatkan kualitas pantai, terutama berkaitan dengan kebersihan dan kerapihannya. Hal ini dikarenakan pemasukan tersebut nantinya harus disetorkan kepada Dinas Pariwisata untuk kemudian disampaikan ke Pemerintah Daerah sebagai pendapatan asli daerah ke dalam APBD (Anggaran Dasar dan Belanja Daerah). Setelah itu baru diproses – dengan proses yang panjang tentunya – sehingga dapat diperoleh dana yang dianggap sesuai untuk perawatan Pantai Parangtritis.

Penulis              : Wahyu Dwi Septiningrum

 Pewawancara   : Wahyu Dwi Septiningrum / Metta Widyaningrum / Kharisma Ayu    Febriana / Lestrya Ramadhani / Ikhsan Hikmawan

Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

SEKAR,  KUPU-KUPU MALAM  DI PARANGTRITIS 

Keindahan pantai parangteritis merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, tempat porsitusi pun tak luput dari sorotan mata para pengunjung, tempat terselubung ini menjadi bercak noda yang menyimpan sejuta misteri dan sulit dihilangkan.

                    Sekar, 18 tahun (nama samaran), seorang siswa di salah satu SMA negeri yang ada di kabupaten Bantul ini sangat polos dan murah senyum, tidak ada perbedaan yang sangat menonjol dari diri gadis ini, Setiap pagi dia biasa menjalankan aktifitasnya sebagai siswa yang baik, dengan mengayun sepeda ontelnya sejauh 5 kilo meter tidak terlihat wajah putus asa yang terlihat dari wajahnya, yang ada malah keceriaan dan pantang menyerah, dibawah terik matahari yang terus mengikutinya dia tetap bersemangat untuk bersekolah. Gadis yang mempunyai cita-cita sebagai pramugari ini termasuk murid teladan disekolahnya.

                  Tapi siapa sangka?.., dibalik kopolosan dan kebahagiaanya itu tersimpan mimpi buruk, Dia adalah salah satu dari sekiaan banyak Pekerja Seks Komersial (PSK) yang ada di daerah wisata pantai Mbolong, dengan muka bimbang dia meluangkan waktunya kepada Tim Djogjalicious untuk menceritakan sisi lain dari kehidupannya sebagai pelajar.

                   Duduk di pojok warung yang ditutupi terfal, dengan semilir angin laut yang menyapu rambut panjangnya dia mulai menceritakan kisahnya. Malam mulai menyelimuti pantai Mbolong, Sekitar jam sembilan gadis kelahiran kota hujan (Bogor) ini mulai keluar dari rumahnya yang tidak jauh dari pantai mbolong, dengan pakaian yang sexi dan make up yang membalur diwajahnya dia beraksi mencari para pria hidung belang yang ingin memakai jasanya, Duduk diantara PSK lainnya sekar mulai menggoda para tamu hidung belang, “pantainya yang indah dan banyaknya pasien”, (pria hidung belang) yang ating itu alasan saya kenapa memilih pantai Mbolong sebagai tempat mangkalsaya” ujarnya sambil meneteskan air mata tanda penyesalan.

                   Dengan hati yang terpuruk dia melayani nafsu seksual para hidung belang itu, semalam sekar biasanya bisa melayani tiga sampai enam jidung belang, dengan bayaran yang dia tentukan dia siap melayani para hidung belang tersebut, “saya sih tidak melihat dia jelek atau sudah tua, yang penting dia mempunyai uang yang banyak dan siap berkencan dengan saya” , ucapnya sambil menghisap sebatang rokok. Dia juga bersedia diajak keluar sesuai permintaan si hidung belang, bisa di hotel, villa atau di mobil.

                 Gadis yang sekarang duduk dibangku kelas tiga SMA ini mengaku terpaksa melakukan pekerjaan haram ini karena desakan ekonomi yang semakin tertekan, “saya selama tujuh bulan terpaksa menjalaninya untuk menyambung hidup saya dan keluarga saya” dengan logat khas sundanya, Ayahnya sudah meninggal sejak dia berusia 10 tahun, dimana dia menbutuhkan kasih sayang dari seorang ayah, malah dia ditinggalkannya dengan banyak beban, ibunya hanya berjualan jajanan di depan rumah, Dengan penghasilan yang jauh dari cukup yang membuat saya terpaksa menjalani pekerjaan haram ini untuk membiayai sekolahnya dan menbayar hutang yang ditinggakkan ayahnya selama masih hidup.

                  Semalam gadis ini bisa mendapatkan uang 600 ribu dan sebulan bisa mencapai 15 juta, uang itu dia pergunakan untuk menbayar sekolahnya, dan menabung terus sisanya dipakai untuk menbeli HP, sopping, dan voya-voya bersama teman-temannya. Dia berambisi mewujudkan mimpi ibunya yang ingin sekali menjalankan rukun ating yang kelima yaitu pergi ke tanah suci. 

                   Setiap mengkal dia dihantui rasa takut karena seringnya razia yang dilakukan satpol PP perhadap PSK yang sangat meresahkan masyarakat ini, sekalinya ada razia mereka lari dan pindah ke tempat lain, tapi sebelum adanya razia, sebagian dari mereka sudah mengetahuinya, jadi mereka sudah siap untuk melarikan diri, itu dikarenakan ada opnum dalam sendiri yang menberitahunya kepada kami”, jadi razia itu Cuma formalitas saja” kata mamih sebagai bos. Mereka dijamin bebas dari penyakit kelamin seperti HIV / AIDS karena mereka rutin memeriksa diri ke rumah sakit selama dua minggu sekali. Dan selalu memakai alat pengaman setiap melayani para hidung belang. Sekilas ada keingin untuk berhenti dari pekerjaan yang penuh resiko ini, dan bertobat untuk menjalani hidup normal. “Tapi dosa yang sudah saya tanggung tak termaafkan dan pintu surga sudah tidak mungkin terbuka untuk saya”, tutur gadis belia itu dengan rauk haru. Walaupun tiada kata terlambat untuk bertobat.

 Penulis : Ikhsan Hikmawan

 Pewawancara   : Ikhsan Hikmawan / Kharisma Ayu Febriana / Wahyu Dwi Septiningrum / Metta Widyaningrum /  / Lestrya Ramadhani

 Foto                 :

LIBATKAN  DINAS  SOSIAL DAN DINAS AGAMA,

BANGUN  MORAL

Oleh Retno.S,Sos.Msi

 

                   Masalah PSK (Pekerja Sex Komersial) tak dapat di selesaikan dengan satu pihak, namun pihak-pihak terkait harus saling bekerjasama untuk menyelesaikan masalah tersebut, tutur Retno,S,sos.Msi, Dosen Sosiologi Komunikasi Fisip

                     Retno,S.Sos.M,Si, menjelaskan dengan mengambil teori Webber, dalam ilmu Sosiologi, Tindakan sosial merupakan tindakan-tindakan yang berorientasi pada orang lain. Sehingga PSK (Pekerja Sex Komersial) di masyarakat tidak perlu di berantas dengan razia atau garuan, dsb, karena itu adalah suatu penyakit masyarakat.

                     Banyak faktor yang mengakibatkan seseorang memilih untuk menjadi PSK, karena lingkungan keluarga yang tidak harmonis, kebutuhan ekonomi yang mendesak, lingkungan pertemanan, bahkan media massa yang memberikan efek negatif terhadap masyarakat.

                Wanita asli Jogja yang lahir 41 tahun lalu ini menambahlan, bahwa Media sekarang ini seolah lupa akan fungsinya sebagai media untuk memberikan nilai pendidikan, hingga yang di utamakan adalah nilai komersial.

                Sebagai contoh, tayangan reality show “Temehek-mehek”  yang sebenarnya tayangan tersebut memberikan dampak negatif bagi masyarakat, khususnya anak remaja yang jiwanya sangat labil.seolah masyarakat disuguhi pada pembiasaan bahwa persoalan perselingkuhan, berani kepada orang tua, gaya hidup glamor adalah hal yang biasa. Dan juga berita investigasi yang terlalu menjelaskan adegan ulang pelaku secara detail, justru itu dalam teori komunikasi akan menjadikan efek pembelajaran bagi masyarakat, yang bila terjadi terus-menerus akan menjadi sebuah kebiasaan.

                   Hal terpenting yang harus dilakukan dalam menangani masalah ini adalah memahami dari si pelaku (PSK), kenapa ia melakukan tindakan tersebut ? . Jangan hanya menyalahkan PSK, karena seperti hukum ekonomi, “ Bila permintaan terus bertambah, maka barang” juga akan terus ada” , dalam arti bahwa PSK tidak dapat di hilangkan selama masih ada lelaki hidung belang. Dengan demikian harus melakukan pendekatan dan sosialisasi secara bertahap dan berkelanjutan.

                 Dimana Pemerintah harus bersinergi dengan Departemen Agama dan Dinas Sosial secara komprehensif untuk membangun moral masyarakat, khusurnya PSK dan lelaki hidung belang. Tegas Dosen FISIP UPN”V” Yogyakarta, yang kini telah merampungkan studi S2 di Universitas Gajah Mada.

 Penulis              : Kharisma Ayu Febriana

 Pewawancara   : Kharisma Ayu Febriana

 Foto                 : Kharisma Ayu febriana

MEREKA  BICARA  PARANGTRITIS

Kebersihan  Pantai semestinya  dijaga !!

                    Suyanto 45 th (Petugas Kebersihan Parangtritits)

                  Sejak kecil saya sudah tinggal di kawasan pantai parangtritis ini. Dulu mulanya Saya bisa kerja disini karena memang pekerjaan yang susah dicari dimana-mana dan juga membutuhkan lulusan-lulusan sarjana. Saya tetap merasa senang walaupun kerja disini menjadi petugas kebersihan parangtritis karena saya memang sudah mencintai pantai parangtritis. Saya membersihkan pantai parangtritis ini bersama 36 pekerja lain. Sebenarnya sangat susah untuk untuk membersihkan kawasan pantai sebesar ini dengan pekerja yang sangat terbatas, tapi tetap saya kerjakan dengan ikhlas dan saya mengusahakan kebersihan panta tetap diaga, ujarnya.

                  Pantai ini sejak ramai dikunjungi banyak pengunjung pada tahun 1980an, tetapi sejak saat itulah banyak pedagang PKL yang berjualan juga di kawasan pantai, itu sangat mengganggu keindahan pantai. Sebenarnya pihak dari Dinas Pariwisata sudah memberikan tempat tersendiri untuk PKL yang ingin berjualan, tetapi PKL tetap saja kekeh dengan berjualan di tempat yang tidak semestinya untuk berdagang. Itu membuat kawasan yang tadinya bersih menjadi sedikit kotor walaupun pantai menjadi kotor bukan sepenuhnya dari pedagang PKL tersebut. Semoga kesadaran masyarakat dan PKL itu datang secepatnya supaya tetap menjaga pantai tetap bersih.

Pantai indah namun sedikit membahayakan.

Ridwan, 35 th(Petugas tim SAR

                   Pantai parangtritis adalah pantai yang diakui keindahannya yang luar biasa. Pantai ini sudah lama  dikagumi oleh Ridwan, seorang lelaki yang berusia 35 tahun. Pak Ridwan bekerja disini sebagai tim SAR juga membawa nilai positif yaitu dapat menikmati keindahan pantai ini setiap hari. Selama bekerja disini pak Ridwan melihat pantai ini indah namun sedikit membahayaka karena ada waktunya ombak disini pasang, dan pernah juga pantai ini menela korban. Pak Ridwan sangat menyesal kejadian itu bisa terjadi. Jika berbicara mengenai keamanan di pantai ini lelaki berumur 35 tahun ini mengatakan aman karena pantai ini sudah memiliki batas keamanan dan batas dimana masyarakat tidak boleh melebihi batas keamanan ketika berada di pantai ini.

                     Selama pengunjung tidak melanggar peraturan di kawasan pantai, Tim kami tidak perlu was-was terhadap pengunjung. Tetapi jika ada yang berenang di pantai, kita selalu mendampingi dari jauh apabila pengunjung tersebut sudah mulai berenang di pantai.

 Banyak pengunjung, banyak pendapatan.

 Sarimin, 47 th (Pekerja Delman)    

                   Bapak Sarimin yang bekerja sebagai Saya kusir delman ini kira-kira sudah 3 tahun bekerja. Pantai ini diakui memang indah sekali pemandangannya. Setiap ada hari-hari besar atau hari libur pengunjung pantai ini sangat ramai, itu sangat menguntungkan baginya, ya walaupun hasilnya tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk makan anak-anak dan istri. Ketika ditanya mengenai penghasilan atau harga yang ditawarkan kepada pengunjung ia memberi harga untuk ini sekitar 15ribu sampai 20 ribu, tetapi tergantung penawaran juga dengan pelanggan.

                     Mengenai kebersihan pantai ini sangat saya sayangkan karena makin lama kebersihan pantai ini sudah tidak terjaga. Banyak sekali sampah yang ada di pantai ini. Saya hanya berharap supaya pantai ini tetap akan bersih supaya pengunjung senang dengan pantai ini dan juga akan bertambah pengunjungnya, kalau begitu kan juga saya mendapat untung, ujar pak Sarimin.

Promosi Luar Negeri.

 Gilang, 24 th ( pengunjung pantai parangtritis / wisatawan )

                 Saya asli penduduk Jogja, tetapi saya tidak akan bosan dengan Pantai Parangtritis ini. Pantai ini sangat memberi banyak kenangan bagi saya. Sejak kecil saya sering sekali diajak ke pantai ini bersama orang tua dan keluarga saya. Menurut saya pantai ini begitu indah walaupun banyak juga pantai lain di Jogja yang tidak kalah menarik, tapi lihat saja, bagi penduduk luar Jogja jika ingin berkunjung ke Jogja pasti tidak akan melewatkan pantai indah ini.

                   Parangtritis ini sebaiknya tetap dijaga keindahannya supaya makin banyak pengunjung yang ating kemari. Dan seharusnya pantai ini sering dijadikan ajang promosi sampai ke Luar Negeri kalau perlu supaya tourist asing juga berkunjung kemari. Tetapi sangat disayangkan, pantai ini mulai dikunjungi oleh pengemis, mungkin saya dan pengunjung lain merasa sedikit terganggu dengan hal itu karena mungkin kita ingin menikmati keindahan pantai ini tetapi justru melihat pemandangan yang tidak menyenangkan.

3 kali diusir Satpol PP.

Sri 40 th ( Pedagang Kaki Lima )

                       Seorang wanita yang berumur 40 tahun ini sudah bekerja selama 3 tahun di pantai ini, untuk bertahan hidup, ungkapnya. Wanita ini mengatakan memilih tempat pantai ini karena  tahu pengunjung di sini sangat ramai. Ia mengaku pernah di grebek oleh Satpol PP karena katanya tidak boleh berjualan disini, mengganggu pengunjung pantai ini. Tapi menurutnya tidak mengganggu karena setiap pengunjung yang ingin membeli jajanan disini kan tidak harus jauh-jauh jalan ke depan lagi untuk membeli sesuatu. Walaupun sudah lebih dari 3 kali saya disini digrebek tetapi tetap saja saya kembali ke kawasan pantai ini untuk berdagang, ungkapnya.

                        Keuntungan atau kesenangan lain yang saya dapat jika berjualan disini adalah saya dapat keuntungan dari berjualan disini dan senang juga melihat pantai ini. Pengunjung disini juga banyak yang ramah-ramah tetapi juga ada yang emosional ataupun cuek. Baru didatangi sudah menolak.

Penulis                : Lestrya Ramadhani

Pewawancara : Lestrya Ramadhani / Metta Widyaningrum / Kharisma Ayu Febriana / Wahyu Dwi Septiningrum / Ikhsan Hikmawan

 Foto                 : Kharisma Ayu Febriana

           


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: