Pak joko, mengharapkan uang receh di keramaian malioboro

11 01 2010

 

(berita pendukung)

Pak joko, mengharapkan uang receh di keramaian malioboro Malioboro

 

              Memang sangat indah di siang hari dan mewah pada saat malam datang ,berbagai aktifitas hampir bercampur menjadi satu di jalan jantungnya kota yogyakatra ini, tetapi dibalik itu ada sedikit harapan untuk soerang pengemis yang mempunyai senyuman yang menbuat malioboro terasa lebih indah. Joko 65 tahun, laki-laki separuh baya ini duduk menyendiri di salah satu pojokan di maloiboro, bapak asli Surabaya ini sehari-hari mengemis di sekitar malioboro untuk menyambung hidupnya yang sebatang kara ini, siang dan malam bapak yang khas memekai topi ini sahat mengharapkan belaskasihan kepada orang-orang yang ada di sekitar malioboro, dengan dibantu bekas cangkang air minum meneral dia berkeliling malioboro untuk mengais untuk kehidupan sehari-hari. Di tengah terik matahari yang panas bapak dengan logat jawa ini tidak pernah ada rasa putus asa untuk mendapatkan sekeping receh di malioboro.Bapak yang selalu membawa kantong berwana hita yang berisi pakaian itu dalam sehari bisa mendapatkan uang 30 ribu yang sudah cukup untuk makan dia sehari. Ia memilih malioboro sebagai tempat bekerjanya karena dianggap paling strategis di yogyakarta “saya sengaja datang dari kota Surabaya hanya untuk menikmati dan mengharapkan uang receh di malioboro, bagi saya uang receh lebih berharga dibandingkan uang 100 ribu karena uang receh tidak mungkin bisa dipalsukan.” ucapnya sambil meminum segelas es teh. Siapa yang menyangka bapak 5 cucu itu pandai berbahasa inggris, dia bisa berbahasa inggris karena pada waktu jaman dulu sudah terbiasa bergaul denagn para turis yang berwisata ke kota pahlawan itu, bapak ini juga salah satu saksi hidup pejangan arek-arek soroboyo yamg berhasil mengusir belanda dari Indonesia.”pada saya berusia 19 tahun saya sdah terbiasa memedang senjata untuk berjaga-jaga bilamana ada serangan mendadak dari belanda”. Ujarnya sambil sedikit berbahasa inggris itu. Pada tahun 1989 pak joko sudah merasakan berada di balik jeruji besi penjara, pada ewakri itu dia difnah melakukan pembunuhan yang akhirnya menyerednya ke penjara selama 5 tahun. Tidak jarang juga satpol PP menertibkan para gelandangandan pengemis, tetapi itu tadak menbuat kapok pak Joko untuk kembali lagi ke malioboro untuk mencari nafkah.” Bagi saya malioboro adalah surganya dunia, disinalah saya makan, tidur, mencari uang dan mencari rezki”. Pak joko adalah salah satu dari banyak orang yang mencari nafkah di keramaian malioboro. Di Surabaya bapak yang basa disapa jobay ini memiliki 2 orang anak yang sekarang hidupnya sudak mapan-mapan, tetapi dia tidak mengharapakan kekeayaan anaknya itu karena dia merasa malu karena dia mantan narapidana yang mungkian akan menjadi aib bagi keluarganya sendiri, kemudian dia meninggalkan tanah kelahirannya dan hijrah ke kota gudeg untuk bertahan hidup.

Penulis: Ikhsan Hikmawan (153070334)

( berita Utama)

Indonesia, kaya akan SDA tapi miskin akan SDM

Negara Indonesia kaya akan sumberdaya alam, pulau-pulau terhampar luas mengelilingi bumi pertiwi ini, Negara yang dibatasi oleh dua benua dan dua samudra ini memiliki kenekaragaman kehidupan, namun dibalik itu Indonesia juga menyimpan sejuta misreri yang tak terpecahkan juga.

Dibalik keindahan indinesia ini sering terjadi berbagai fonomena alam yang silih berganti yang melanda bumi pertiwi ini, mulai dari bencana tsunami, banjir, longsor, gempa bumi dan kebakaran. Entah kenapa bencana itu sering melanda Negara yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani ini. Dengan kejadian itu banyak orang yang kehilangan harta benda serta tempat tinggal, yang akhirnya akan melahirkan kemiskinan dan pengangguran.

Gambar disanping menggambarkan salah satu potret krisis kemiskinan yang melanda ibu pertiwi ini. Mereka kahilangan tempat tinggal dan pergi ke kota untuk mencari makan dan bertahan hidup. Seharusnya mereka hidup bahagia bersama keluarganya dan menggapai mimpinya. Dan masih banyak saudara-saudara kita yang hidup pada garis kemiskinan, ditambah mealmbungnya kebutuhan pokok yang semakin memberatkan mereka.

Menjadi pengemis adalah salah satu cara mereka untuk bisa bertahan hidup ditengah kota yang keras ini. Meraka menagis rupiah untuk mendapatkankan sesuap nasi, tidak peduli dibawah terik matahari atau pun diguyur hujan deras meraka tampak tidak putus asa untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Di keramaian kota mereka bersaing sesama pengemis. tidak jarang juga mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib dan membawanya ke tempat yang lebih layak untuk mereka, tetapi itu tidak membuat kapok untuk kembali lagi kejalanan, “hidup dijalan lebih mengasikan daripada harus hidup dipanti asuhan” ujar salah satu pengemis yang masih remaja ini.

Anak-anak ini seharusnya duduk dibangku sekolah untuk mencari ilmu sesuai cita-cita mereka, bukannya ada dijalanan untuk mencari uang. Orang tua yang seharusnya membingbing mereka untuk menjadikan anaknya menjadi orang pandai bukannya malah menelantarkannya begitu saja.Jalanan yang kejam dan penuh bahaya ini terpaksa mereka pilih untuk tempat berteduh.

Pemerintah seharusnya harus memerhatikan mereka dengan serius, mereka tidak ingin Negara tercinta ini harus dikotori pemandangan seperti pengemis dan gelandangan. Dengan membuka lapangan pekerjaan bagi mereka, dan membimbing mereka untuk hidup lebih kreatif dan mandiri. Sekarang diperparah dengan ditemukannya kasus kekerasan bahkan pembunuhan yang kerap terjadi pada pengemis dan gelandangan. Lebih sadis lagi ada beberapa pengemis yang meninggal karena kelaparan.

 penulis : ikhsan Hikmawan (153070334)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: