IN DEPTH NEWS (UAS)

11 01 2010

Hedonisme vs Wirausaha

-tulisan utama-

Shopping di mall, nongkrong di cafe, dan nonton film di bioskop, itulah kegiatan mahasiswa yang dapat kita saksikan dalam mengisi waktu luangnya. Suatu potret budaya hedonisme yang kian merebak di kalangan generasi muda di Indonesia saat ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terpaan berbagai media di era globalisasi ini telah merubah masyarakat Indonesia menjadi lebih bersifat konsumtif. Ditambah dengan segala kemudahan yang ada, masyarakat terlena dengan segala sesuatu yang serba instan. Sejak kecil mereka telah terbiasa memperoleh apapun yang mereka butuhkan dan mereka inginkan hanya dengan satu jentikan jari. “Kalo ada yang gampang, ngapain cari yang susah”, ucap Devi manakala ditanya mengenai kebiasaannya menghamburkan uang orang tuanya untuk memenuhi kebiasaannya berbelanja make up, pakaian dan segala pernak-perniknya yang sesungguhnya belum terlalu dia perlukan. Terlahir dari keluarga yang serba ada memang membuat perempuan yang hingga kini belum juga menyelesaikan kuliahnya sejak lima tahun itu, bersifat konsumtif. Hal serupa terjadi pada Ajeng. Meskipun dibesarkan oleh orang tua yang bercerai, tidak lantas membuatnya lebih bijak dalam menentukan perilakunya. Justru budaya boros sudah kuat tertanam pada dirinya sejak ia masih kecil. “Aku sering kok blanja-blanja sama mama”, bangganya seraya menunjukkan koleksi pakaiannya yang tidak bisa dibilang sedikit itu.

Budaya-budaya hedonisme inilah yang menuntun masyarakat Indonesia, termasuk di antaranya adalah mahasiswa, tidak mampu hidup mandiri. Terlihat dari paradigma kebanyakan mahasiswa yang berpikir untuk ‘bekerja kepada orang lain’. Setelah lulus, mereka sibuk melamar bekerja di mana, bukan berpikir untuk membuka usaha sendiri. Padahal saat ini, menjadi sarjana bukanlah jaminan untuk mudah memperoleh pekerjaan. Perusahaan semakin selektif dalam memilih karyawan. Tingkat persaingan menjadi semakin ketat. Hal ini menjadikan mereka yang tidak mampu mengikuti arus persaingan justru akan tersisih dan menambah angka pengangguran.

Bekerja kepada orang lain bukan merupakan suatu hal yang salah. Karena pada dasarnya kesempatan dan keberuntungan seseorang memang sangat menentukan nasib masa depannya. Namun, bukan hal yang salah pula mencoba membuat usaha sendiri. Istilah yang umum dipakai adalah wirausaha. Tidak sedikit orang yang sukses secara finansial melalui usaha yang dikembangkannya sendiri.

Esti Wijaya, mahasiswa di Unika Atmajaya ini adalah contohnya. Meskipun bukan seorang muslim, namun perempuan berambut sebahu ini selalu meramaikan hadirnya bulan Ramadhan. Bersama tiga orang temannya, Esti membuat sajian manis untuk berbuka puasa atau kata lainnya tajilan. “Aku emang suka masak. Lagian lumayan buwat nambah uang saku”, ungkapnya sembari tersenyum lebar. Berbagai macam puding dan kolak tidak pernah absen dari lapak yang dibuatnya di pinggiran jalan di depan kampusnya. Selain, membuka lapak, perempuan yang berasal dari Purwodadi ini juga menjajakan dagangannya ke kos-kosan sekitarnya. “Pudingnya enak. Macem-macem bentuknya”, ujar Keke, salah satu pelanggan setia dagangan Esti. Di luar bulan puasa, Esti biasa membuat berbagai macam kue. Dan ia menjual kue-kue itu kepada teman-temannya, baik di kosnya maupun di kampusnya. Meskipun belum mampu menghasilkan apapun dari usahanya tersebut, tapi setidaknya ia dan teman-temannya mampu membantu perekonomian keluarganya dengan menghemat pengeluaran uang sakunya.

Mungkin pada awalnya tidak selalu berjalan lancar. Karena pada dasarnya tidak ada hal yang mudah di dunia ini. Seperti hal yang dialami oleh Esti. “Pernah sehari itu kue yang aku bikin ga ada yang mau beli”, terang perempuan berlesung pipit ini. Namun bukan berarti usaha yang awalnya tidak lancar akan selalu berakhir dengan sebuah kegagalan. “Tidak ada yang tidak mungkin di muka bumi ini”, demikian orang biasa menyebutkannya. Bukan tidak mungkin usaha yang dirintis oleh Esti, maupun wirausahawan-wirausahawan lainnya akan berkembang dengan pesat beberapa tahun yang akan datang. Dan pada akhirnya, kewirausahaan dapat memajukan kegiatan perekonomian di negara ini. Bukankah kewirausahaan ini akan lebih bermanfaat daripada gaya hidup konsumtif yang kini banyak diganyang masyarakat Indonesia?



Tak Kenal Lelah

-tulisan pendukung-

Membantu perekonomian keluarga. Kalimat inilah yang selalu hadir dalam benak Esti Wijaya. Menjadikannya lebih kuat dan meningkatkan daya juangnya menghadapi kehidupan di era globalisasi ini.

Ketika mahasiswa seumurannya tengah sibuk memilah-milih pakaian di butik-butik, atau duduk berjam-jam di salon, Esti justru tengah sibuk berkutat di dapur kecil di kosnya. Membuat berbagai macam cemilan. Bukan karena ia gemar ngemil, tapi karena itu merupakan usahanya. Usaha kecil yang tengah dirintisnya perlahan. Baginya, itu lebih bermakna dari sekedar berfoya-foya dan menghamburkan uang. “Kalo gitu si bukan aku banget”, akunya.

Belajar dari ibunya yang juga pandai memasak, perempuan berkulit putih ini tidak menyia-nyiakan kemampuannya. “Daripada Cuma masak buat sendiri, kalo begini kan lebih bermanfaat. Apalagi banyak yang suka kue-kue bikinanku”, jelasnya panjang lebar. Hal ini diamini oleh Dian dan Resti, teman satu kos Esti yang juga pelanggan tetapnya. “Kuenya ga bikin eneg”, papar Dian disertai anggukan mantap dari Resti.

Namun, bisnis ini tidak melulu lancar. Ada kalanya hambatan juga ikut melengkapi perjalanan karirnya. Ketika kue yang dibuat gagal atau saat penjualannya tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan. “Pernah sehari itu kue yang aku bikin ga ada yang mau beli”, paparnya. Tidak hanya sekali atau dua kali saja hal tersebut terjadi, melainkan sering kali. Namun, Esti tidak pernah berhenti berusaha. Ia tetap sabar dan tidak kenal lelah. “Kalo gitu ajah nyerah, kapan bisa majunya?”, ucapnya berusaha meyakinkan diri. Dengan keyakinan yang dimilikinya itulah Esti berhasil memajukan usahanya secara perlahan.

Meskipun belum mampu memperoleh pendapatan yang besar, tetapi setidaknya dari usaha yang dilakoninya tersebut, Esti mampu membantu perekonomian keluarganya. Ia mampu membayar kos sendiri, memperoleh tambahan uang saku dan sedikit demi sedikit menambahi tabungannya. Sangat sedikit mahasiswa yang memiliki jiwa pekerja keras seperti Esti. Semangat berwirausaha inilah yang seharusnya ditanamkan kepada banyak generasi muda penerus bangsa lainnya. Agar mereka tidak terbiasa bergantung pada orang lain.

Wahyu Dwi Septiningrum

153070206

A


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: